PT KAI Jamin Tak Ada Tiket Mudik Tanpa Tempat Duduk

Ilham wibowo    •    Rabu, 01 Jul 2015 07:45 WIB
kereta api
PT KAI Jamin Tak Ada Tiket Mudik Tanpa Tempat Duduk
Petugas kebersihan tengah membersihkan gerbong-gerbong kereta api.

Metrotvnews.com, Jakarta: PT Kereta Api Indonesia menegaskan kapasitas angkut untuk arus mudik lebaran 2015 tetap 100 persen pada setiap gerbong atau keretanya. Pihaknya juga menjamin safety factor tetap menjadi prioritas utama.

"Sesuai jumlah seat yang kami jual, tak ada lagi tiket dijual tanpa tempat duduk. Karena hal ini pasti tidak nyaman, tidak aman bagi pengguna jasa kami," tutur SM Corporate Communication PT. KAI (Persero) Daop 1 Jakarta, Bambang S Prayitno dalam keterangan tertulisnya kepada Metrotvnews.com, Rabu (1/7/2015)

Permintaan tiket kereta api untuk musim mudik umumnya terjadi pada hari-hari mendekati Lebaran, mulai H-5 hingga H-1. Bambang mengatakan pihaknya tak takut kehilangan pelanggan dengan menetapkan aturan satu orang satu tiket untuk membuat pengguna jasa kereta api tetap mematuhi aturan yang ditetapkan PT KAI.

"Jika tidak disiplin kita tindak tegas. Semua ini demi wajah transportasi negeri yang manusiawi dan beradab," tuturnya.

Bambang menjelaskan reservasi tiket H-90 dilakukan untuk memberi waktu lebih luas bagi calon penumpang untuk mempersiapkan diri. Pengembalian dengan potongan 25 persen dan dibayarkan 30 hari kemudian merupakan upaya PT KAI mengurangi dan menyulitkan ruang gerak percaloan. Salah satunya tindakan joki tiket yang mulai marak untuk mencari celah pelanggaran terhadap aturan ketat PT KAI.

Terobosan PT KAI dengan memanfaatkan teknologi melalui sistem e-ticketing atau tiket online diharapkan membuat calon penumpang lebih mudah memperoleh tiket melalui channel penjualan tiket eksternal terdekat dari tempat tinggal.

Lebih lanjut Bambang menuturkan penumpang yang datang ke stasiun adalah penumpang yang sudah siap berangkat dengan tiket. Berbeda dengan tiga atau empat tahun kebelakang, penumpang yang datang ke stasiun adalah yang belum bertiket, padahal mereka sudah siap berangkat dengan membawa sanak keluarga dan barang bawaan, akhirnya menumpuk, terlantar di stasiun karena tak memiliki tiket.

"Timbulah kriminalitas, percaloan, pembatasan kapasitas angkut nyaris tak terkendali, satu gerbong atau satu kereta saja bisa angkut dari 150% hingga pernah 200% dari kapasitas kursi yang tersedia, sangat tidak manusiawi waktu itu," tuturnya.

Memang tak mudah melakukan pemahaman pada penumpang angkutan massal yang bersegmentasi beragam. Bambang mengatakan PT KAI akan tetap terus memberikan edukasi, hingga pemahaman masyarakat untuk disiplin bertransportasi tetap aman dan nyaman.

"Jika kita membuka sebaran tiket melalui website KAI dan sistem online bisa kita lihat, ketersedian tiket, KA apa dan tujuan kemana, mulai H-6 sd H-15 bisa sebagai alternatif melakukan perjalanan mudik dengan nyaman," tuturnya.

Selain itu, pemerintah melalui Kementerian Perhubungan melakukan perpanjangan masa posko angkutan lebaran selama 26 hari dan memulainya lebih awal yaitu H-15 tanggal (2/7) sampai dengan H+9 (27/7), hal ini dilakukan agar masyarakat dapat memanfaatkan proses mudik dengan aman dan nyaman.


(MEL)