Harga Minyak Naik Usai Perundingan Nuklir Iran

Antara    •    Rabu, 01 Jul 2015 08:33 WIB
minyak mentah
Harga Minyak Naik Usai Perundingan Nuklir Iran
Ilustrasi minyak mentah. FOTO: Reuters/Andrew Cullen

Metrotvnews.com, New York: Harga minyak dunia berbalik naik (rebound) pada Selasa (Rabu pagi WIB), setelah Iran dan enam kekuatan utama memperpanjang tenggat waktu untuk mencapai kesepakatan nuklir yang bisa menambahkan minyak Iran ke pasar global yang kelebihan pasokan.

Patokan AS, minyak mentah light sweet atau West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus, naik USD1,14 menjadi ditutup pada USD59,47 per barel di New York Mercantile Exchange.

AFP melansir, Rabu (1/7/2015), di perdagangan London, minyak mentah Brent North Sea untuk penyerahan Agustus berakhir di USD63,59 per barel, sebuah peningkatan USD1,58 dari penutupan Senin.

Kedua kontrak berjangka utama telah jatuh pada Senin, karena Yunani meluncur menuju gagal bayar (default) utang dan berpotensi keluar dari zona euro. Ketidakpastian mengguncang pasar, mendorong WTI turun USD1,30 dan Brent turun USD1,25.

Para pedagang fokus pada perundingan nuklir Iran di Wina untuk kesepakatan mengakhiri kebuntuan selama 13-tahun antara Iran dan enam kekuatan utama atas program nuklir Teheran yang kontroversial.

Iran dan yang disebut P5+1, Amerika Serikat, Inggris, Tiongkok, Prancis, Rusia dan Jerman, memberi mereka tambahan satu minggu, sampai 7 Juli untuk meraih sebuah kesepakatan setelah tidak ada terobosan terlihat dalam perundingan menjelang batas waktu tengah malam Selasa.

Dalam rangka pembicaraan, Iran setuju secara substansial menurunkan kegiatan nuklirnya dalam upaya untuk mengembangkan senjata nuklir, tujuan yang dibantah oleh Teheran, hampir tidak mungkin. Sebagai imbalannya, sanksi yang mencekik ekonomi Iran oleh tersedaknya ekspor minyak secara bertahap akan dicabut.

"Untuk pasar minyak kesepakatan nuklir Iran adalah fundamental yang paling penting meskipun gejolak Yunani akan membantu menghempaskan seluruh pasar minyak dari hari ke hari," kata Bjarne Schieldrop, kepala analis di Commodities SEB Markets.


(AHL)