Menperin Desak Harga Gas Turun Demi Jaring Investasi Industri

Husen Miftahudin    •    Rabu, 01 Jul 2015 10:45 WIB
gas
Menperin Desak Harga Gas Turun Demi Jaring Investasi Industri
Menperin Saleh Husin. FOTO: Dokumentasi Kemenperin

Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Perindustrian (Menperin), Saleh Husin mengatakan, Kawasan Bintuni di Papua Barat diproyeksikan menjadi megapolitan industri petrokimia di Indonesia bahkan skala global. Pasalnya, kawasan di Indonesia timur itu memiliki potensi gas bumi untuk industri petrokimia.

"Potensi itu dilirik Ferrostaal dari Jerman, LG Chemical dan Pupuk Indonesia yang sudah siap masuk ke Bintuni dan mereka menunggu kepastian harga dan pasokan gas. Inilah yang harus dipercepat kepastian harganya," kata Saleh melalui keterangan tertulisnya, Rabu (1/7/2015).

Ia mengakui, pihak calon investor telah beberapa kali meminta kepastian dukungan energi gas sebagai salah satu basis kalkulasi investasi dan operasi. Ini mengingat industri petrokimia merupakan  bisnis jangka panjang.

"Untuk Bintuni, memang perlu intervensi pemerintah terhadap harga gas karena ini demi kepastian investasi petrokimia yang mendukung beragam industri lainnya dan menciptakan lapangan kerja," ungkapnya.

Ia memaparkan, harga gas domestik selama ini dinilai menjadi kendala utama pengembangan petrokimia. Harga gas yang masih tinggi, yakni sekitar USD9-10 per MMBTU, sedangkan di luar negeri hanya USD3-USD4 per MMBTU.

Menurut Saleh diperlukan joint study antara Pupuk Indonesia selaku pengguna gas dengan BP Berau selaku penghasil gas. Diperlukan pula, koordinasi dengan Kementerian/Lembaga maupun instansi terkait agar pembangunan pabrik dapat berjalan dengan lancar.

Menurut data Kementerian Perindustrian (Kemenperin), pembangunan industri petrokimia di Teluk Bintuni karena memiliki potensi gas bumi di Teluk Bintuni yang sudah diidentifikasi sebesar 23,8 TSCF, dimana sebesar 12,9 TSCF sudah dialokasikan untuk dua train LNG, dan sisanya sebesar 10,9 TSCF untuk satu train LNG. Selain itu, ditemukan pula cadangan baru sebesar 6-8 TSCF.

Potensi gas bumi tersebut dapat digunakan sebagai bahan baku industri ammonia untuk mendukung industri urea dan bahan baku industri methanol untuk mendukung industri pusat olefin.

"Pembangunan industri melalui program hilirisasi serta kompleks industri petrokimia akan berdampak terhadap pengembangan daerah, meliputi infrastruktur, pendidikan dan kesejahteraan," pungkas Saleh.


(AHL)

Pukat UGM: KPK Masih Bisa Jadikan Setnov Tersangka

Pukat UGM: KPK Masih Bisa Jadikan Setnov Tersangka

22 minutes Ago

Ini adalah salah satu hasil eksaminasi atau kajian atas putusan praperadilan Setnov yang dikabu…

BERITA LAINNYA