Komnas HAM Selidiki Informasi Penyerangan LP Cebongan via Facebook

- 30 Maret 2013 14:59 wib
Ilustrasi -- MetroTV
Ilustrasi -- MetroTV

Metrotvnews.com, Jakarta: Komisi Nasional Hak Asasi Manusia menyebut akan mendalami informasi atau catatan peristiwa penyerangan Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cebongan di Sleman, Yogyakarta yang dimuat oleh akun jejaring sosial milik Facebook Idjon Djnbi. Akun tersebut memaparkan rentetan peristiwa dan memamerkan foto-foto pascapenyerangan.

"Kita kumpulkan, semua informasi kita kumpulkan. Soal perkembangan (menurut akun Idjon Janbi) kita catat nanti, kita dalami," kata anggota Komnas HAM Nur Kholis ketika dihubungi, Sabtu (30/3).

Seperti diketahui, beredarnya sebuah catatan soal kasus penyerangan LP Sleman di jejaring sosial Facebook,  Jumat (29/3). Pemilik akun mengatasnamakan, Idjon Djanbi. Diketahui, Idjon Djanbi adalah mantan anggota Korps Speciale Troepen KNIL dan Komandan Kopassus Pertama, karena itu akun tersebut diduga nama samaran.

Adapun dalam akun Idjon Janbi berisi cerita dibalik kasus penembakan yang diduga terkait kartel narkoba di ligkungan polisi sendiri. Dalam catatan tersebut, penulis menjelaskan soal kronologi penyerangan lapas yang berbeda dari yang dimuat media massa.

Dalam catatan penulis, keterangan yang dilansir Polda DIY terdapat banyak kejanggalan, seperti pemecatan Bripka Juan dari kepolisian berlangsung singkat dan langsung dipindahkan ke Lapas Sleman, dan tidak tuntasnya penyidikan polisi terhadap kasus pengeroyokan anggota Kopassus Serka Santoso di Hugo's Cafe beberapa waktu sebelumnya.

Tak hanya catatan, akun tersebut juga memuat foto korban paska penembakan di tahanan dan berbagai analisa arah tembakan dan luka-luka korban. Foto tersebut kemudian menyebar di dunia maya.

Ketua Komnas HAM Siti Noorlaila enggan mengomentari catatan dari akun Idjon Janbi. Ia menilai banyak yang tidak benar dalam catatan tersebut.

"Tidak semuanya benar. Karena itu saya tidak akan menanggapi," kata Siti ketika dihubungi. (Fid)

()

Meski nama-nama cawapres itu sudah mengerucut menjadi tiga, Jokowi masih enggan menyebut nama-nama mereka.