Ada MEA, Pengusaha Kepri Bakal Rugi Rp100 Triliun

Hendri Kremer    •    Rabu, 01 Jul 2015 14:09 WIB
mea 2015
Ada MEA, Pengusaha Kepri Bakal Rugi Rp100 Triliun
etua Dewan Penasehat Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kepri, Abidin Hasibuan. FOTO: MI/Hendri Kremer

Metrotvnews.com, Batam: Pemberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2015 dinilai merugikan pengusaha Kepri sebesar Rp100 triliun. Bahkan, MEA bisa menguntungkan kawasan yang ada di Malaysia.

"Kami pengusaha di Batam yang dirugikan, jika MEA diberlakukan. Sebab, pekerja asing yang datang tidak menggunakan permit lagi. Jadi untuk apa mereka investasi di sini, jika urusan usaha sudah dipermudah di sana, kerugian mencapai Rp100 triliun per tahun. Jika diterapkan," kata Ketua Dewan Penasehat Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kepri, Abidin Hasibuan, Rabu (1/7/2015).

Menurut dia, pengusaha Batam dan Kepri tidak yakin MEA menciptakan ASEAN sebagai sebuah pasar tunggal dan kesatuan basis produksi. Apalagi bisa terjadi free flow atas barang, jasa, faktor produksi, investasi dan modal, serta penghapusan tarif bagi perdagangan antar negara ASEAN.

"Kenyataannya investasi di Batam merosot drastis. Industri galangan kapal saja banyak yang kolaps. Apa pemerintah memperhatikan masalah tersebut secara seksama," tegasnya.

Jadi banyak aspek yang harus menjadi pemikiran para pembuat kebijakan di Indonesia, khusus Kepri daerah ini yang paling terpapar dengan MEA. Sebab, transaksi perdagangan dan usaha masih menggunakan mata uang dolar.

Apindo Kepri menilai pengetahuan pemerintah pusat terpaku pada masalah yang terjadi di Jakarta saja. Tidak memperhatikan masalah yang terjadi di luar pusat pemerintahan, padahal masalahnya sangat kompleks.

"Hitungannya, kalau tidak terjadi masalah akibat MEA. Kenapa investasi di Batam. Yang merupakan katalisator ekonomi di Indonesia menurun, ini kan ada yang salah," tambahnya.

Dia menuding tim survey data dari Kementerian Perindustrian tidak melakukan analisa yang dalam, dan harusnya melibatkan pengusaha. Jika sudah ada masukan dari dunia usaha, pemerintah melalui Kementrian terkait bisa melanjutkannya, namun hal itu tidak terjadi.

Arahnya kebijakan pemerintah dan aktivitas dunia usaha menjadi bertolak belakang, ini yang menimbulkan distorsi perekonomian. Apindo Kepri mengambil contoh peluang memperluas pasar bagi produk-produk industri nasional. Hitungan kasarnya, Indonesia lebih unggul dalam masalah konsumen. Karena besarnya jumlah penduduk Indonesia. Untuk pangsa pasar Indonesia saja, dunia usaha sudah untung.

Senada dengan itu, pengamat ekonomi dan hukum perdagangan dari Universitas Riau Kepulauan (Unrika) Rumbadi Dalle berpendapat pemerintah terbujuk dengan rayuan para anggota ASEAN lainnya. Padahal, dari banyak sisi. Indonesia lebih unggul dibandingkan negara ASEAN yang lain, hanya saja manajemen saja yang dibenahi.

Dia menjelaskan di tengah kondisi perekonomian yang belum stabil, industri pengolahan nonmigas sampai triwulan I-2014 mampu tumbuh sebesar 5,56 persen atau lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi sebesar 5,21 persen.

Cabang industri yang tumbuh tinggi di antaranya, industri makanan, minuman dan tembakau sebesar 9,47 persen, industri alat angkut, mesin dan peralatannya sebesar 6,03 persen, serta industri barang kayu dan hasil hutan lainnya sebesar 5,17 persen.

Berdasarkan data BPS, nilai ekspor Indonesia pada Mei 2014 mencapai USD14,83 miliar atau meningkat 3,73 persen dibandingkan April 2014 sebesar USD14,30 miliar. Peningkatan nilai ekspor Mei 2014 disebabkan oleh meningkatnya ekspor nonmigas sebesar USD12,45 miliar atau naik 6,95 persen dibandingkan April 2014 sebesar USD11,64 miliar.

Sementara itu, beberapa produk nonmigas yang mengalami peningkatan ekspor, antara lain produk kimia sebesar USD104,1 juta atau 96,56 persen, alas kaki sebesar USD31,2 juta atau 8,70 persen, dan kertas/karton sebesar USD3,8 juta atau 1,17 persen. Sedangkan dari sisi volume, ekspor Indonesia pada Mei 2014 mengalami peningkatan 4,12 persen dibandingkan April 2014, yang disebabkan peningkatan volume ekspor nonmigas sebesar 4,99 persen.

"Jelas dari data tersebut kita lebih unggul. Untuk apa MEA lagi. Karena kita lebih dirugikan," pungkas dia.


(AHL)