Bank Dunia: Turun 14%, Harga Pangan Terendah dalam 5 Tahun

Antara    •    Kamis, 02 Jul 2015 12:53 WIB
pangan
Bank Dunia: Turun 14%, Harga Pangan Terendah dalam 5 Tahun
Bank Dunia -- FOTO: Cairo Post

Metrotvnews.com, Jakarta: Bank Dunia mengeluarkan kajian yang menyatakan harga pangan global sejumlah komoditas rata-rata menurun sekitar 14 persen antara Agustus 2014 dan Mei 2015, dan merupakan tingkat 
harga terendah dalam lima tahun terakhir ini.

Ekonom Senior tentang Kemiskinan Global di Grup Bank Dunia Jose Cuesta menyambut baik penurunan harga pangan karena membuat orang miskin bisa membeli kebutuhan harga bahan pangan. 

"Kami sambut baik penurunan harga pangan karena berarti lebih banyak orang miskin yang berpotensi dapat membeli makanan untuk anggota keluarga mereka," kata Jose Cuesta, dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Kamis (2/7/2015). 

Jose menutukan bedasarkan kajian "Food Price Watch" (Pemerhati Harga Pangan) Bank Dunia, penurunan harga minyak bumi berkontribusi kepada melimpahnya pasokan pangan global seperti panen gandum, jagung, dan beras. Hal ini yang menjadi faktor pendorong menurunnya harga pangan di tingkat internasional dalam sembilan bulan terakhir.

Sektor pertanian dan pangan juga dinilai terus mendapatkan manfaat dari beban biaya pupuk, Bahan Bakar Minyak (BBM), dan transportasi yang semakin murah karena penurunan harga minyak pada tahun sebelumnya.

Berdasarkan kajian tersebut, harga gandum global rata-rata menurun hingga 18 persen, harga beras global rata-rata menurun 14 persen, dan harga jagung global rata-rata menurun enam persen.

Meski demikian, datangnya fenomena iklim Elnino, meningkatnya nilai tukar mata uang dolar AS terhadap berbagai mata uang lainnya di dunia, dan harga minyak yang mulai menunjukkan pergerakan naik kembali juga berpotensi memicu harga pangan pada beberapa bulan mendatang.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meminta masyarakat memaklumi kenaikan harga sejumlah komoditas pangan yang terjadi saat ini supaya kalangan petani bisa menikmati produksinya.

“Kenaikan harga komoditas pangan pada tingkat yang aman (sekitar 1-2 persen) sebaiknya tidak diatasi dengan impor karena akan merusak kesejahteraan ekonomi petani Indonesia,” kata Amran. 


(SAW)