Belanja Iklan Televisi Tembus Rp32,919 Triliun

   •    Kamis, 02 Jul 2015 15:03 WIB
iklan
Belanja Iklan Televisi Tembus Rp32,919 Triliun
AP Photo/Liz Jenkins

Metrotvnews.com, Jakarta: Di tengah situasi pertumbuhan ekonomi yang mencapai 4,71 persen, belanja iklan di televisi pada semester pertama 2015 mencapai Rp32,919 triliun. Angka itu didapat dari pendapatan kotor yang diterima 13 stasiun televisi nasional pada semester pertama 2015.

Nilai Rp32,919 triliun tentu saja menjadi tanda tanya besar. Menurut data Persatuan Perusahaan Periklanan Indonesia (PPPI), pendapatan di 2014 saja dari televisi mencapai Rp150 triliun. Hal tersebut berarti minimal pendapatan 2015 mestinya setengahnya.

Memang, angka hampir Rp33 triliun itu hanya di 13 televisi nasional. Namun, hal itu diyakini sudah lebih dari 80 persen pangsa pasar.

Kesimpulan tersebut berdasarkan data Adstensity, sebuah modul platform riset yang dikembangkan PT Sigi Kaca Pariwara. Dari 13 Stasiun tv nasional yang didata Adstensity, RCTI merupakan stasiun TV dengan pendapatan kotor tertinggi mencapai Rp4,765 triliun.

Di urutan kedua ada SCTV, dengan pendapatan mencapai Rp4,731 triliun. MNC menempati urutan ketiga, dengan pendapatan mencapai Rp 3,843 triliun. Sementara posisi juru kunci ditempati TVRI dengan raihan Rp12,005 miliar.

Dari sisi sebaran pendapatan, tidak satu pun stasiun televisi yang dominan. Meskipun RCTI memperoleh pendapatan kotor tertinggi, namun penguasaan pendapatannya hanya mencapai 15 persen.

SCTV dan MNC TV, masing-masing menguasai 14 persen dan 12 persen. Namun secara kelompok konglomerasi bisnis televisi, grup MNC (RCTI, Global TV, MNC TV) menguasai pangsa pasar sampai 35 persen. Sedangkan grup Emtek (SCTV, Indosiar) menguasai 25 persen.

Trans Corp yang tahun-tahun sebelumnya selalu berjaya berjaya, semester pertama 2015 ini terpuruk hanya mendapatkan 8 persen pangsa pasar.

“Persaingan antarkelompok televisi masih seru, meski ekonomi melambat. Tapi turunnya Trans grup dari sisi pendapatan cukup mengejutkan. Di sini diperlukan talent-talent dalam mengendalikan industri kreatif,” kata Direktur Sigi Kaca Pariwara, Sapto Anggoro.

Sementara dari sisi program acara yang diselenggarakan stasiun tv, data adstensity menunjukkan bahwa sepanjang semester I 2015, program acara yang mendulang iklan terbanyak cenderung monoton. Program TV yang menjadi mesin uang tersebut diantaranya sinetron, audisi dangdut, film animasi, dan film-film lama bioskop yang kembali diputar.

Data Adstensity menunjukkan, program acara itu diselenggarakan oleh RCTI, SCTV, MNC TV, Indosiar, dan Global TV.

Sedangkan dari sisi ads spending brand, sepanjang semester I 2015 menunjukan gejala sangat dinamis. Pada Januari, brand Royco tercatat melakukan spending terbesar hingga Rp93,755 miliar.

Bulan Februari, giliran Dji Sam Soe paling besar belanja iklannya. Produsen rokok itu merogoh kocek hingga Rp92 miliar.

Maret beda lagi, Sampoerna tercatat paling boros belanja iklannya hingga menembus angka Rp137,205 miliar. Di bulan April, belanja iklan Sampoerna menurun tipis tapi masih paling tinggi dengan angka Rp136,147 miliar.

Giliran Djarum Super paling tinggi pengeluarannya untuk iklan pada Mei, sebesar Rp 178,513 miliar. Menjelang minggu kedua Ramadan (Juni 2015), Marjan menorehkan belanja iklan tertinggi dengan nilai Rp235,729 miliar.

Data Adstensity juga menunjukkan bahwa di semester I 2015, brand yang memiliki jumlah tayang terbanyak selalu berubah. Sebagai contoh, di Januari jumlah spot (iklan tayang) Royco Ayam mencapai 2103 kali.

Februari giliran Indomie Soto dengan penayangan iklan mencapai 2322 kali. Pada Maret dan April, Indomie Rasa Soto Spesial menjadi brand dengan jumlah tayang terbanyak hingga menembus angka 2600-2700 kali tayang.

Bulan Mei, Traveloka mendominasi dengan jumlah tayang iklannya mencapai 3240 kali. Di Juni, giliran Marjan Melon tampil sebanyak 4882 kali. Hal tersebut wajar, sebab akhir semester pertama telah memasuki Ramadan.

Dari sektor industrial datanya beda lagi. Industri beverage (minuman) mendominasi jumlah belanja iklan sepanjang Semester I 2015.

Nilai belanja iklan beverage, bisa mencapai Rp818,897 miliar hingga Rp1,671 triliun. Angka tersebut berdasarkan varian produk industri beverage yang diiklankan di televisi mencapai lebih dari 100 brand.

Berikutnya ada industri personal care, dengan total belanja iklan mencapai Rp779,266 miliar hingga Rp1,134 triliun. Industri makanan olahan juga masuk dalam tiga besar industri yang melakukan belanja iklan terbanyak di televisi.

Belanja iklan dari sektor industi makanan olahan mencapai Rp323,432 miliar hingga Rp693,462 miliar. Industri lain yang selalu masuk dalam daftar 10 besar belanja iklan terbesar sepanjang Semester I ini meliputi industri pharmacy, household, cigarette, dan unrefined food. Sedangkan belanja iklan industri retail, otomotif, dan telekomunikasi semester ini mengalami fluktuatif.

Adstensity merekam kinerja iklan di 13 stasiun TV nasional (TVRI, RCTI, SCTV, MNC TV, Indosiar, Global TV, Trans TV, Trans 7, ANTV, TV One, Metro TV, Kompas TV, dan Net TV). Iklan yang direkam merupakan iklan tvc, tidak termasuk running text dan flash ad.

Sementara angka pendapatan dan spending kotor berdasarkan data yang dipublikasikan 13 tv nasional. Adstensity tidak menampilkan data yang tidak dipublikasikan, seperti diskon iklan antara pemasang iklan dan pemilik televisi.


(NIN)