Gedung Pencakar Langit Inefesien di New York akan Dirobohkan

   •    Selasa, 02 Apr 2013 06:42 WIB
Gedung Pencakar Langit Inefesien di New York akan Dirobohkan
REUTERS/Visualhouse - Hudson Yards/Handout/bo

Metrotvnews.com, New York: Tahun 1950-1960 dikenal sebagai era baru ketika modernisme berkembang secara global. Dalam dunia ekonomi dan bisnis, kota-kota besar pusat pertumbuhan ekonomi berlomba membangun gedung pencakar langit untuk menjustifikasi kesuksesan bisnis mereka.

Hal yang sama terjadi di New York, pusat fesyen serta bisnis dan ekonomi di Amerika Serikat. Tahun 1950-an, di kota tersebut banyak dibangun landmark, seperti bangunan perkantoran 675 Third Ave yang dibangun oleh The Durst Organization.

Sayangnya, gedung berusia 47 tahun itu termasuk dari bangunan yang dinilai tidak efisien dalam pemanfaatan energi. Gedung pencakar langit yang diselubungi kaca ini bahkan menjadi salah satu dari gedung yang akan dirobohkan.

Pengembang properti mewacanakan untuk menggusur gedung-gedung pencakar langit di tengah kota New York yang dibangun pertengahan abad 21 dan menggantinya dengan gedung yang lebih ramah lingkungan. Hal itu sejalan dengan rencana zonasi yang akan dilakukan di kota berjuluk The Big Apple itu.

Dilansir dari Crain's New York Business, grup konsultan lingkungan melaporkan belasan gedung perkantoran berlapis kaca dengan luas sampai 305.000 meter persegi dinilai sangat boros energi sehingga lebih baik jika bangunan tersebut dirobohkan diganti dengan bangunan baru.

Untuk memuluskan rencana tersebut, pemilik gedung diperbolehkan mengganti bangunan yang tidak efisien tersebut dengan bangunan baru yang lebih luas.

Setidaknya, cara ini lebih baik dibanding terus merawat gedung tua boros energi yang ada di tengah kota New York.

Berdasar laporan tersebut, bangunan yang dirobohkan bisa diganti dengan bangunan baru dengan luas 44% lebih besar dan pemanfaatan energi berkurang 5%.

Utamanya, energi yang dibutuhkan untuk merobohkan bangunan dan pembangunan yang baru bisa diimbangi oleh penghematan energi dari bangunan baru dalam 15-28 tahun.

Kendati demikian, wacana tersebut menimbulkan pro kontra, baik sejarawan, arsitek dan pengembang real estate.

Dosen Universitas Harvard yang juga sejarawan arsitektur, George Thomas beranggapan bagi orang-orang yang bergerak dalam pelestarian bangunan tua, mempertahankan gedung lebih penting ketimbang menghancurkannya.

"Apa yang dikatakan laporan tersebut benar-benar suatu hal yang baru," ujar Thomas.

Hal yang sama diungkapkan Direktur Eksekutif Historic Distric Council Simeon Bankoff. Ia bersikeras bangunan-bangunan dari pertengahan abad 21 tersebut merupakan simbol dari kota New York.

"Bangunan ini dulunya adalah penanda perkembangan bisnis di Amerika di Tahun 1950an. Mereka seharusnya mempertimbangkan pelestarian lebih serius," tegasnya.

Namun, Bill Browning, co-founder dari Terappin Bright Green, konsultan yang membuat laporan tersebut beralasan keberadaan dari bangunan-bangunan tua ini sulit beradaptasi dengan kondisi sekarang.

"Alasan utama kenapa bangunan tua yang tidak efisien ini harus disingkirkan Karena bangunan tersebut lebih besar dibanding yang diperbolehkan dari persyaratan zonasi," kata Bill.

Bill memaparkan bangunan pencakar langit dengan tirai kaca yang dibangun sebagai simbol modernitas Amerika pada 1950 merupakan tipikal bangunan menyerap panas. Apalagi, struktur bangunan dinilai sangat rapuh untuk mendukung efisiensi energi.

"Tragedy dari bangunan ini, mereka tidak bisa disesuaikan dengan kondisi sekarang," ujar Bill.

Adapun laporan ini disponsori oleh Otoritas Riset dan Pengembangan Energi New York, Perusahaan Arsitektur CookFox dan Grup Pengembang Real Estate Board of New York. (Ayomi Amindoni)