Penyerapan Biodiesel Dalam Negeri Ditaksir Menurun

Ade Hapsari Lestarini    •    Kamis, 02 Jul 2015 18:45 WIB
minyak sawit
Penyerapan Biodiesel Dalam Negeri Ditaksir Menurun
Ilustrasi sawit. FOTO: MI/FARHAN

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemerintah diimbau tidak tinggal diam dalam penetapan harga indeks pasar biodiesel yang dilakukan Pertamina. Sehingga, target penyerapan biodiesel di pasar domestik sebesar tiga juta kiloliter (kl) bisa terpenuhi.

"Secara teoritis 10 persen harusnya tiga juta kl atau 2,8 juta ton CPO," ujar Ketua Dewan Minyak Sawit Indonesia (DMSI) Derom Bangun, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Kamis (2/7/2015).

Menurut dia, saat ini produsen biodiesel merugi akibat Pertamina menggunakan Mean of Platts Singapore (MOPS) alias harga minyak Singapura sebagai harga dasar biodiesel.

Kejatuhan harga minyak bumi sampai di kisaran USD50 per barel membuat produsen biodiesel rugi. Sebab harga CPO masih USD665 per ton. Dengan menggunakan patokan MOPS, Pertamina hanya membeli biodiesel dengan harga sekitar USD500 per ton.

Melihat situasi bisnis yang tak kondusif untuk biodiesel ini, Derom memprediksi penyerapan biodiesel di dalam negeri tahun ini bakal menurun. Meski perkiraan global memprediksi produksi biodiesel Indonesia tahun ini 3,2 juta ton, dirinya pesimis dengan angka itu. "Saya ragu dengan taksiran itu," katanya.

Dia memperhitungkan, total produksi biodiesel Indonesia tahun ini kemungkinan hanya dua juta ton, menurun dari tahun lalu yang mencapai 2,9 juta ton. Dari dua juta ton itu, hanya 1,1 juta-1,2 juta ton biodiesel saja yang diserap di dalam negeri, sisanya diekspor.

Ekspor biodiesel diperkirakannya juga menurun jauh karena harga minyak bumi yang makin murah hingga di bawah harga biodiesel. Selain itu, permintaan biodiesel berbahan baku CPO di Eropa juga turun karena mereka meningkatkan penggunaan minyak kedelai yang selisih harganya dengan CPO kini hanya USD50 per ton.

"Taksiran saya hanya dua juta ton tahun ini dan hanya 1,1 juta atau 1,2 juta ton tahun ini diserap di dalam negeri, ekspor hanya 0,8 juta ton," katanya lagi.

Lamanya penetapan harga HIP biodiesel menunjukkan adanya kegamangan. Jika mau serius kembangkan BBN biodiesel. Sebagaimana diketahui, pemerintah tengah merencanakan penurunan HIP biodiesel dari USD188 + harga CPO menjadi USD125 + biaya CPO.

Harga yang disebut awal merupakan biaya pemrosesan CPO menjadi fame, bahan baku untuk dicampurkan ke solar. Penurunan HIP setidaknya jangan lagi diikuti dengan penambahan biaya-biaya lain seperti ongkos transportasi.

"Sebaiknya hal itu menjadi beban dari pihak pengguna, dalam hal ini badan usaha penyalur BBM yang bertugas mencampur fame dengan solar," jelasnya.

Adapun polemik soal HIP biodiesel hanyalah satu dari berbagai permasalahan teknis yang bisa menghambat semangat awal pemerintah untuk mulai membangun ketahanan energi nasional. Dalam hal ini pengamat mengingatkan, pelaku usaha BBM impor tidak akan pernah diam.

"Mereka akan terus melakukan berbagai cara agar BBN sulit berkembang agar tetap kalah bersaing dengan BBM impor. Mereka bisa membuat situasi yang begitu menekan dengan tujuan agar pemerintah kembali bertindak pragmatis: tetap tergantung pada  BBM impor," pungkasnya.


(AHL)

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

Irvanto Kecewa Divonis 10 Tahun Penjara

5 days Ago

Vonis untuk Irvanto Hendra Pambudi dianggap lebih berat ketimbang vonis pelaku-pelaku utama&nbs…

BERITA LAINNYA