Pesawat Hercules Jatuh

Dalam 10 Tahun, Lanud Malang Kehilangan Empat Pesawat Hercules

Aditya Mahatva Yodha    •    Jumat, 03 Jul 2015 13:35 WIB
hercules jatuh di medan
Dalam 10 Tahun, Lanud Malang Kehilangan Empat Pesawat Hercules
Lanud Abdul Rachman Saleh Malang mengibarkan bendera setengah tiang setelah Hercules C-130 jatuh di Medan, Metrotvnews.com/ Aditya Mahatva Yodha

Metrotvnews.com, Malang: Pangkalan Udara (Lanud) Abdul Rachman Saleh, yang terletak di Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Jawa Timur, sudah mengalami empat kali musibah kecelakaan pesawat. Kecelakaan terjadi dalam rentang waktu sepuluh tahun terakhir, sejak 2005 hingga 2015.

Kecelakaan itu mengakibatkan Lanud Abdul Rachman Saleh kehilangan empat pesawat. Kecelakaan memakan korban sebanyak 33 anggota TNI dan awak serta 13 warga sipil.

Kapan dan di mana saja kecelakaan itu? Berikut data yang dikumpulkan oleh Metrotvnews.com dari berbagai sumber.

1. 22 Juli 2005
Kecelakaan pertama terjadi pada Jumat, 22 Juli 2005 silam. Pesawat yang jatuh adalah pesawat tempur taktis OV-10 Bronco TT-1011. Pesawat itu jatuh di Gunung Limas, Desa Gadingkembar, Kecamatan Jabung, Kabupaten Malang.

Dalam kecelakaan tersebut menewaskan Mayor (Penerbang) Robby Ibnu Robert dan Letnan Dua (Penerbang) Harchus Aditya Wing Wibawa.

2. 23 Juli 2007
Berselang dua tahun, OV-10 Bronco TT-1014 jatuh di ladang tebu Dusun Bunut, Desa Bunut Wetan, Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, Senin, 23 Juli 2007.

Lokasi kejadian hanya berjarak 1,5 kilometer dari ujung landasan pacu Pangkalan udara Abdurrachman Saleh. Korban meninggal dalam musibah itu atas nama Letnan Dua (Penerbang) Eliseus Quinta Rumiarsa. Sedangkan Mayor (Penerbang) Danang Setyabudi, sang instruktur, berhasil menyelamatkan diri dengan kursi pelontar.

Dua kecelakaan itu jelas mengurangi jumlah OV-10 Bronco. Kini Lanud Abdurrachman Saleh memiliki tujuh unit Bronco. Sebelumnya, di era 1990-an, satu unit Bronco juga jatuh. Akhirnya, Markas Besar TNI Angkatan Udara langsung menghentikan seluruh pengoperasian OV-10 Bronco.

Pesawat yang dipakai Angkatan Udara sejak 1976 itu dipensiunkan pada Oktober 2010 dengan kandangnya, yakni Skadron 21, yang kini dihuni delapan pesawat tempur ringan Super Tucano yang dibeli dari pabrikan Empresa Braziliera de Aeronautica (Embraer), Brazil.

3. 26 Juni 2008
Kecelakaan ketiga dialami pesawat CASA C-212-200. Pesawat bernomor register A-2106 ini jatuh di Gunung Salak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada Kamis, 26 Juni 2008. Pesawat jatuh saat melakukan misi ujicoba kamera baru dari Dinas Survey dan Pemotretan Udara TNI Angkatan Udara. Sebanyak lima anggota TNI Angkatan Udara dan 13 penumpang tewas dalam kecelakaan tersebut. Tidak tercatat secara rinci nama siapa saja yang meninggal, di kecelakaam tahun ini.

4. 30 Juni 2015
Sementara kecelakaan keempat adalah kecelakaan yang menimpa pesawat Hercules C-130 bernomor register A-1310 di Medan, Sumatera Utara, pada Selasa, 30 Juni 2015. Yang menewaskan Kapten (Penerbang) Sandy Permana bersama rombongan, Dengan jumlah penumpang 22 orang. Kru pesawat ada 12 atau awak pesawat dan 110 penumpang.

Sehingga Kelima pesawat Hercules C-130  milik Lanud Abdul Rachman Saleh, dikandangkan menyusul jatuhnya Hercules C-130 A-1310 di Jalan Jamin Ginting, Kota Medan, Sumatera Utara.

Kepala Penerangan dan Perpustakaan (Kapentak) Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh, Letnan Kolonel (Letkol) Sutrisno mengatakan pengandangan kelima pesawat tersebut sesuai instruksi Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU)  Marsekal Agus Supriatna.

"Belum tahu sampai kapan akan di-grounded (dikandangkan),” kata Sutrisno, di Rumah Pintar Lanud Abdul Rachman Saleh, Jumat (3/7/2015).

Lima pesawat Hercules C-130 yang dikandangkan diparkir rapi menurut nomor registrasinya, yakni A-1316, A-1332, A-1330, A-1309, dan A-1305. Kelima pesawat Hercules C-130 itu baru datang dari penugasan di daerah lain.

’’Walaupun pesawat Hercules sudah berusia 51 tahun, pesawat itu kondisinya masih layak terbang. Karena secara rutin terus mendapat perawatan di Skadron 32 Wing 2. Perbaikan disegerakan bila ada kerusakan dan komponen yang rusak langsung diganti," pungkas Letkol Sutrisno.


(RRN)