Inflasi Masih Bisa Tertekan, BI Belum Berencana Turunkan BI Rate

Eko Nordiansyah    •    Jumat, 03 Jul 2015 15:55 WIB
bi rate
Inflasi Masih Bisa Tertekan, BI Belum Berencana Turunkan BI Rate
Ilustrasi -- ANTARA FOTO/Fanny Octavianus

Metrotvnews.com, Jakarta: Bank Indonesia (BI) belum berencana akan menurunkan suku bunga acuan (BI Rate) meskipun ada penurunan inflasi. Selain itu, secara umum terdapat tantangan bagaimana inflasi di akhir kuartal II dan akhir kuartal III masih di atas tujuh persen.

"Juni kan (inflasi) 0,54 persen, kami sambut baik pemerintah dan pemerintah daerah berkoordinasi keluarkan kebijakan, termasuk operasi pasar sehingga inflasi jelang Lebaran masih terkendali," ujar Gubernur BI Agus Martowardojo di Gedung BI, Jakarta Pusat, Jumat (3/7/2015).

Namun demikian, dirinya melihat jika tantangan terhadap inflasi masih ada, khusus tekanan dari kenaikan harga cabai merah dan daging. Sehingg diperlukan koordinasi yang baik serta meyakinkan konektivitas antarwilayah terjaga sehingga harga terkendali.

"Mesti kita waspadai kalau ada kelangkaan maka nanti ada tekanan. Secara umum kalau kuartal II dan III masih di atas tujuh persen baru akhir tahun 4,2 persen. Ini masih bisa dicapai. Inflasi akhir tahun akan membaik," sambung dia.

Selain itu, masih ada risiko dari Elnino atau harga minyak duniai mungkin bisa naik. Meskipun, OPEC sudah berkomitmen akan menaikan produksinya sehingga harga minyak bisa turun.

"Tapi potensi harga naik ada lalu BBM naik. Kita perlu waspadai infalsi. Tapi CAD membaik, yaitu sekarang 2015 bisa di bawah 2,5 persen dari GDP. Tapi tantangan neraca dagang ada perbaikan karena turunya ekspor dan impor. Ini sesuatu yang harus diperhatikan," jelasnya.

Selain itu, BI juga akan tetap mendorong makroprudensial yakni perbankan diberi GWM tertentu insentif dan disinsentif, pelonggaran LTV agar ada penyaluran pada masyarakat. Serta respons pemerintah melalui penurunan suku bunga KUR UMKM dari 22 jadi 12 persen, dengan begitu pengusaha yang baru mulai bisa mulai dengan bunga yang wajar.

"Kami harap jadi lebih kuat, maka di semester II akan ada pencairan anggaran juga lebih baik. Ini akan membuat ekonomi terjaga. Tapi kebijakan moneter kita harus antisipasi kebijakan AS yang membuat ketidakpastian," pungkas dia.


(AHL)