Cairkan JHT 10 Tahun, Pembunuhan Massal bagi Buruh

Surya Perkasa    •    Jumat, 03 Jul 2015 17:11 WIB
bpjs ketenagakerjaan
Cairkan JHT 10 Tahun, Pembunuhan Massal bagi Buruh
ilus buruh (ANTARA FOTO,R. Rekotomo)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemerintah mengubah aturan batas waktu minimal pencairan BPJS Jaminan Hari Tua (JHT) menjadi 10 tahun sebelum dicairkan oleh penerima Jamsostek. Kritikan keras pun dilontarkan Anggota Komisi IX DPR Ribka Tjiptaning seiring dengan perubahan tersebut.
 
"Ini pembunuhan massal bagi buruh kalau saya lihat. Jadi jauh dari semangat UU BPJS yang kita bikin sebenarnya," kata dia di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Jumat (3/7/2015).
 
Perubahan yang tertuang dalam PP nomor 46 tahun 2015 tentang Jaminan Hari Tua yang ditandatangani oleh Presiden Joko Widodo mulai dikeluarkan pada 1 Juli 2015 dinilai sangat merugikan buruh.
 
Politikus PDIP ini juga mengkritik keras Menteri Tenaga Kerja (Menaker) Hanif Dhakhiri dan Direksi BPJS yang tidak membuat aturan teknis sesuai dengan semangat UU 40 tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN) dan UU 24 tahun 2011 tentang Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS).
 
“DPR buat UU BPJS ini untuk menganulir hal-hal yang tidak manusiawi untuk buruh-buruh. Tapi BPJS Ketenagakerjaan justru malah makin mempersulit atau menganiaya buruh kalau saya lihat," kritik dia.
 
Ribka menentang skema batas waktu ditambah menjadi 10 tahun dan skema pengambilan maksimal 10 persen dari total dana untuk menjamin kelayakan hidup pekerja di hari tua atau bila tidak bisa bekerja lagi.
 
Dia menjelaskan perpanjangan batas waktu dan pembatasan jumlah penarikan justru semakin mempersulit pekerja. Seharusnya, pekerja diberi keleluasaan untuk mengelola tabungannya selama bekerja.
 
"Itu kan urusan buruh, hak buruh. Dan ini sudah tahu ini hak dia, jadi tidak usah lagi pemerintah mau mengatur lagi. Jadi berikan saja hak buruh itu hak dia kok. Kenapa lagi sih kok jadi ribet begini," papar dia.
 
Dia pun merasa ada permainan di balik keluarnya PP tersebut. "Kalau ditahan, satu hari sudah berapa bunganya? Ini kan ada kepentingannya juga," tutup Ribka.‎


(SAW)