Awas, Nyeri Bisa Jadi Pertanda Adanya Penyakit Serius

Nia Deviyana    •    Jumat, 03 Jul 2015 17:35 WIB
kesehatanpenyakit
Awas, Nyeri Bisa Jadi Pertanda Adanya Penyakit Serius
Nyeri bisa jadi pertanda adanya penyakit pada tubuh. (Foto:Telegraph.co.uk)

Metrotvnews.com, Jakarta: Nyeri merupakan sebuah kondisi yang umum dialami setiap orang. Karena sering terjadi, banyak orang mengabaikan rasa nyeri pada tubuh mereka. 

Padahal, dipaparkan Dr. Jimmy F. A. Barus, M.Sc., Sp.S, Neurologist dari Departemen Neurologi Fakultas Kedokteran Unika AtmaJaya, nyeri bisa menjadi indikasi adanya suatu penyakit pada tubuh. 

"Misalnya merasakan nyeri punggung disertai dengan penurunan berat badan. Itu bisa terjadi karena ada infeksi di bagian dalam tubuh, misalnya tulang. Atau tiba-tiba sering nyeri di bagian kepala, bisa juga karena adanya trauma, bahkan tumor," jelasnya. 

Ditinjau berdasarkan lamanya nyeri, Jimmy menambahkan, nyeri dibedakan menjadi akut dan kronis. Kebanyakan nyeri akut bersifat terbatas atau akan sembuh dalam beberapa hari atau minggu, dan terjadi kurang dari 1-3 bulan. 

Sementara, nyeri kronis adalah nyeri menetap yang dialami lebih dari tiga bulan sejak mulai dari dirasakannya nyeri. Dalam beberapa kasus, nyeri akut yang tidak ditangani dengan tepat kemungkinan bisa menjadi nyeri kronis.

Nyeri kronis bisa memperburuk kualitas hidup pasien karena dapat menurunkan kemampuan bekerja, menimbulkan gangguan tidur, kecemasan, frustasi, depresi, berkurangnya nafsu makan, hingga ketergantungan obat dan perawatan medis. 

"Sebab itu, nyeri harus ditangani secara tepat dan tidak seharusnya diabaikan. Bila dibiarkan berlanjut, rasa nyeri yang ringan sekalipun dapat semakin berat," imbau Jimmy. 

Lebih lanjut, lanjut Jimmy, ada beberapa penanganan nyeri. Secara umum, penanganan nyeri dapat melalui terapi secara farmakologi maupun non-farmakologi. 

Untuk penanganan nyeri secara farmakologi, melibatkan penggunaan obat-obatan seperti golongan anti-inflamasi, opiat, maupun obat-obatan adjuvans. Sedangkan penanganan nyeri secara non-farmakologi, yaitu mengatasinya dengan memberikan intervensi fisik atau psikologis, seperti fisioterapi dan relaksasi. Bahkan pada kasus tertentu, dibutuhkan intervensi bedah atau prosedur tertentu untuk mengatasi nyeri. 



(LOV)