Menteri Jokowi-JK Jangan Sibuk Cari Muka Jelang Reshuffle

Surya Perkasa    •    Sabtu, 04 Jul 2015 06:26 WIB
menteri penghina jokowi
<i>Menteri Jokowi-JK Jangan Sibuk Cari Muka Jelang Reshuffle</i>
Presiden Jokowi (kelima dari kiri) didampingi Wakil Presiden Jusuf Kalla (keenam dari kiri) memimpin rapat kabinet terbatas (Ratas) membahas Strategi Nasional Pencegahan dan Pemberantasan Korupsi (Stranas PPK) yang dihadiri sejumlah menteri. (Foto: MI/PAN

Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo membeberkan ada menteri yang menghina Presiden Joko Widodo (Jokowi). Namun, kelakuan Tjahjo ini justru dikritisi oleh kelompok oposisi.

"Jangan sibuk menjelekkan satu sama lain. Kesannya itu, cari muka ke presiden. Apalagi ada reshuffle kabarnya segera dilakukan," kata Sekretaris Jenderal Gerindra Ahmad Muzani ketika buka bersama anak yatim piatu di bilangan Kalibata, Jakarta, Jumat (3/7/2015).

Menurut dia, apa yang dilakukan Tjahjo ini tidak apik sebagai seorang politikus ataupun birokrat. Dia menilai, seharusnya jika memang ada 'bau tidak sedap' di dalam pemerintahan, Tjahjo berbicara dengan Presiden atau tim Kepresidenan.

"Kan ada yang namanya rapat koordinasi juga. Juga ada tim juru bicara Presiden. Kenapa justru Tjahjo yang mengungkap (ke publik)," ungkap dia heran.

Hal ini dinilai Muzani lebih baik. Karena apa yang dilakukan Tjahjo justru menimbulkan kegaduhan politik baru.

Padahal, lanjut dia, pekerjaan rumah pemerintah masih banyak. "Sudah lah, menteri kerja aja di bidangnya. Jangan mematikan lampu orang jika tidak bisa menerangkan lampu sendiri," kata dia.

Mendagri Tjahjo Kumolo membenarkan ada menteri yang terekam berani menghina Presiden Joko Widodo. Namun, Tjahjo tidak mau mengungkap siapa pembantu yang menghina Jokowi tersebut.

Mantan anggota Tim Transisi bentukan Jokowi-JK Akbar Faizal justru yang membeberkan transkrip pernyataan menteri yang menghina Presiden Jokowi. Dengan rinci dia menyebutkan petikan penghinaan itu.

"Kalau memang saya harus dicopot, ya silakan. Yang penting Presiden bisa tunjukan apa kesalahan saya, dan jelaskan bahwa atas kesalahan itu saya pantas dicopot. Belum tentu juga Presiden ngerti apa tugas saya. Wong Presiden juga enggak ngerti apa-apa," kata Akbar membaca transkrip itu di Gedung Parlemen, Senayan, Jakarta, beberapa waktu lalu.

 


(OGI)