Supaya Kita tak seperti Yunani

   •    Senin, 06 Jul 2015 06:18 WIB
Supaya Kita tak seperti Yunani

PERHATIAN dunia saat ini tak diragukan tertuju ke Yunani. Negara yang dijuluki 'Negeri para Dewa' itu kini tengah terperosok krisis ekonomi akut akibat gagal membayar utang (default) kepada International Monetary Fund (IMF) yang jatuh tempo 30 Juni 2015 lalu sebesar 1,5 miliar euro atau setara Rp22 triliun.

Utang yang gagal bayar itu sejatinya hanya sebagian kecil dari jumlah utang luar negeri Yunani yang diperkirakan mencapai sekitar 243 miliar euro. Gara-gara default, Yunani betul-betul bangkrut dan kini mereka hanya hidup dari uang pinjaman untuk sementara waktu. Dewi fortuna rupanya enggan mampir di negeri itu.

Konsekuensinya, pemerintah amat ketat mengendalikan kapital. Bank-bank ditutup untuk mencegah rush atau arus keluar uang tunai. Rakyat menjerit karena tak dapat menarik uang tabungan, bahkan uang pensiun mereka. Daya beli terjun bebas dan sebentar lagi tingkat kemiskinan dan pengangguran dipastikan bakal melonjak.

Ketika Yunani sedang bergelut dengan masalahnya, pada saat yang sama Indonesia juga tengah mengalami turbulensi ekonomi. Itu ditandai dengan lemahnya kurs rupiah yang hingga saat ini anteng di atas level 13.000 per dolar AS, plus melambatnya pertumbuhan. Utang luar negeri Indonesia juga tak bisa dibilang kecil karena hingga akhir triwulan I 2015 sudah mencapai US$298,1 miliar.

Banyak orang pun lantas membanding-bandingkan sekaligus menebak-nebak, apakah krisis yang melanda Yunani juga akan terjadi di Indonesia? Mungkinkah Indonesia juga bakal mengalami kebangkrutan ekonomi?

Sah-sah saja bila ada yang coba membandingkan kondisi Yunani dan Indonesia, apalagi jika itu diniatkan agar kita selalu belajar dan waspada. Namun, yang pasti, menyamakan Yunani dan Indonesia saat ini amatlah berlebihan.

Disebut berlebihan karena walaupun utang luar negeri Indonesia besar, gangguan ekonomi sekarang ini bukan disebabkan oleh itu. Berbeda dengan Yunani, yang setelah masuk sistem mata uang euro pada 2001, gemar memanfaatkan pinjaman berbunga murah untuk membelanjai defisit APBN yang semakin besar. Utang luar negeri Indonesia, terutama utang pemerintah, saat ini relatif masih terkontrol.

Proporsi utang berjangka panjang mencapai 85,3% dari total utang luar negeri Indonesia. Itu sangat berbeda dengan fakta bahwa utang luar negeri Yunani justru didominasi oleh utang jangka pendek.

Begitu pula dengan rasio utang terhadap produk domestik bruto (PDB) di Indonesia sekitar 33,48%, jauh ketimbang kondisi Yunani yang angkanya mencapai lebih dari 170%. Artinya, gangguan rnekonomi Indonesia hari ini bukanlah karena tekanan utang.

Karena itu, forum ini sepakat dengan pendapat sebagian besar pakar dan ekonom negeri ini yang menyatakan kita mesti menjaga optimisme Indonesia tidak bakal mengalami kejadian buruk seperti Yunani. Indonesia tidak akan bangkrut. Sangat disayangkan bila masih ada yang menyebarkan isu Indonesia bakal kolaps karena hal itu malah akan membuat masyarakat takut membelanjakan uang mereka. Akibatnya, perekonomian justru makin melambat.

Akan tetapi, kita juga tidak ingin pemerintah lengah.

Bagaimanapun, kita harus belajar bahwa kebangkrutan Yunani disebabkan oleh buruknya manajemen utang pemerintah, termasuk tidak adanya transparansi jumlah utang dan penggunaannya.

Indonesia tak seharusnya terus terjebak dalam utang yang makin membesar. Apalagi, utang itu selalu digunakan 'hanya' untuk menutup defisit anggaran negara. Krisis Yunani mengajari kita agar memiliki konsep yang mumpuni untuk terus mengurangi jumlah utang.


Adik Gamawan Fauzi 'Digarap' KPK

Adik Gamawan Fauzi 'Digarap' KPK

12 minutes Ago

Azmin akan menjadi saksi untuk tersangka Direktur Utama PT Quadra Solution Anang Sugiana Sudiha…

BERITA LAINNYA