Ini Alasan Tukang Ojek Pangkalan Tolak Gabung Go-Jek

M Rodhi Aulia    •    Selasa, 07 Jul 2015 07:43 WIB
gojek
Ini Alasan Tukang Ojek Pangkalan Tolak Gabung Go-Jek
Go-Jek/MI

Metrotvnews.com, Jakarta: Banyak cerita driver Go-Jek yang mendapatkan kelebihan setelah resmi berjaket dan berhelm hijau. Di antaranya, pendapatan yang melebihi tiga kali Upah Minimum Provinsi DKI Jakarta dan fleksibilitas waktu yang dimiliki tanpa terikat jam kerja. Meski demikian, banyak tukang ojek pangkalan atau ojek tradisional yang menolak bergabung dengan Go-Jek walau sudah banyak mendengar cerita-cerita kesuksesan driver Go-Jek.

Berikut sejumlah alasan yang dihimpun Metrotvnews.com dari tukang ojek pangkalan:

1. Ketiadaan Pangkalan

Deden, salah seorang tukang ojek kalibata City, Pancoran, Jakarta Selatan mengakui dirinya ingin bergabung dengan Go-Jek. Tapi dia khawatir jika mendapatkan penumpang di sekitar pangkalan yang anti Go-Jek. 

"Sekarang saya di pangkalan sini, kalau masuk Go-Jek diomelin teman. Karena saya sendiri dan yang lain tidak. Terus kalau saya masuk ke pangkalan ojek lain, saya juga dimarahin sama mereka," ungkap dia kepada Metrotvnews.com di lokasi, Senin (6/7/2015).

"Beda kalau setiap pangkalan, sudah jadi Go-Jek semua. Saya punya rasa aman dan tidak khawatir. Semua satu identitas dengan jaket hijau walaupun tidak saling kenal," imbuh dia.

2. Gagap Teknologi

Deden menuturkan, tidak sedikit tukang ojek pangkalan yang berusia lanjut. Terlebih saat menggunakan smart phone sebagai penunjang kerja yang utama. "Mungkin mereka seumur-umur tidak pernah punya handphone canggih. HP-nya jadul mulu. Selama ini, mereka hanya cukup SMS dan menelpon saja, tidak lebih," tutur Deden.

"Kalau saya, bisa aja sih. Karena pasti dari Go-Jek diajarkan. Nah, kalau yang tua-tua itu, bagaimana. Mereka enggak paham," imbuh dia.

3. Persyaratan Bergabung dengan Go-Jek yang lebih sulit

Deden mengakui, dirinya sempat ikut mengantre tes sebagai driver Go-Jek. Kata dia, ia sudah mengantre sejak pagi hingga siang. Akan tetapi, saat itu, dirinya mengenakan sandal dan mendapat teguran yang tidak sedap dari manajemen Go-Jek.

"Di sini tempatnya kerja. Bukan jalan-jalan," ungkap Deden menirukan ucapan manajemen Go-Jek karena tidak mengenakan sepatu.

Deden merasa kesal, dan ia langsung keluar dari barisan antrean. "Saya anggap, pasti tidak lolos test. Padahal saat itu, saya tidak tahu dan baru ikut proses seleksi. Mungkin dulu pas awal-awal masuk Go-Jek gampang. Sekarang saingannya banyak dan persyaratannya makin ketat," kata dia.

4. Ketidaksiapan ikut aturan baku Go-Jek

Manajemen Go-Jek tidak sembarangan memberikan lisensi kepada seseorang yang ingin menjadi driver Go-Jek. Diantaranya prosedur wajib mengenakan jaket hijau dan helm dua. Selain itu, sepeda motor juga harus benar-benar layak pakai. Sebagai contoh, lampu sen tidak boleh rusak. Namun, dengan aturan serba detail itu, tukang ojek tradisional merasa cukup terbebani.

5. Kurangnya sosialisasi dari PT Gojek Indonesia

Sejatinya, tukang ojek tradisional ini ingin bergabung dengan Go-Jek. Akan tetapi, mereka tidak memiliki informasi yang memadai terkait Go-Jek itu sendiri. Mereka hanya tahu, Go-Jek seperti pesaing bisnis yang mengambil lapak mereka selama ini.


(OJE)