Jelang MEA, RI Harus Jadi Basis Automotif Berorientasi Ekspor

Husen Miftahudin    •    Selasa, 07 Jul 2015 11:16 WIB
mea 2015
Jelang MEA, RI Harus Jadi Basis Automotif Berorientasi Ekspor
Menperin Saleh Husin bersama Dirjen IKM Euis Saedah, Direktur Komersial I Sucofindo M. Heru Riza Chakim, Dirjen ILMATE I Gusti Putu Suryawirawan, Ketua Kompartemen Industri Gaikindo Made Dana T, Ketua Umum Gabungan Industri Alat-alat Mobil dan Motor Indon

Metrotvnews.com, Jakarta: Menteri Perindustrian (Menperin) Saleh Husin mengatakan Indonesia harus mampu menyalip Thailand dalam memproduksi dan mengekspor kendaraan roda empat.

Ini dilakukan agar pada saat Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) diberlakukan, Indonesia dapat memperkuat daya saing industri automotif nasional agar tidak tergerus produk impor.

"Indonesia telah mampu menjadi negara produsen automotif ke-2 terbesar di ASEAN setelah Thailand. Kita harus bisa menyalip karena industri kita mampu serta pasar ekspor dan domestik yang besar," ujar Saleh dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Selasa (7/7/2015).

Thailand saat ini memproduksi kendaraan sekitar 2,5 juta unit per tahun, di mana 50 persen di antaranya mampu diekspor. Sedangkan Indonesia sendiri hanya mampu memproduksi 1,2 juta unit kendaraan per tahunnya, itu pun sebagian besar masih beriorientasi untuk kebutuhan dalam negeri.

Menurut data AC Nielsen, potensi pasar domestik ditopang oleh populasi kelas menengah. Pada 2013, tingkat pertumbuhan jumlah penduduk dengan kategori Middle Class di ASEAN 2012-2020 akan tumbuh sebesar 110,5 persen, sedangkan untuk Indonesia mencapai 174 persen, tertinggi di antara seluruh negara ASEAN.

"Hal ini mengindikasikan permintaan kendaraan bermotor dalam negeri akan semakin meningkat. Sekaligus memantapkan optimisme kita bisa mengubah paradigma menjadi pengekspor dan jadi salah satu basis produk automotif di ASEAN dan dunia," ungkapnya.

Maka itu, lanjut Saleh, program pengembangan industri automotif ke depan harus diarahkan dan dilakukan dalam empat kerangka. Pertama, mengimbangi kompetisi dan impor kendaraan khususnya dari ASEAN; kedua, mendorong investasi; ketiga, mendorong kemandirian Indonesia di bidang teknologi automotif melalui penguasaan teknologi dan peningkatan kemampuan sumber daya manusia.

"Sedangkan keempat, pengembangan dan pengamanan pasar dalam negeri sebagai basis untuk mengembangkan industri automotif yang mandiri dan berdaya saing global," tuturnya.

Menurut dia, sektor ini merupakan salah satu industri prioritas dalam kebijakan industri nasional dan juga termasuk dalam kelompok industri unggulan masa depan. Karena selain menyediakan sarana angkutan orang maupun barang, industri automotif juga berperan memberikan lapangan kerja bagi jutaan tenaga kerja.

Berdasarkan data Kementerian Perindustrian, tenaga kerja yang terserap di sektor ini telah mencapai sekitar 1,3 juta orang. Angka tersebut terserap pada industri perakitan hingga industri komponen dan aktivitas ekonomi ikutan lainnya seperti perbengkelan dan jaringan purna jual.

"Pembangunan industri automotif ke depan harus diarahkan pada peningkatan daya saing secara fundamental dan berkelanjutan dengan memanfaatkan seluruh sumber daya yang dimiliki secara sinergis dan optimal," pungkas Saleh.


(AHL)

Istri Besuk Setya Novanto di Rutan KPK

Istri Besuk Setya Novanto di Rutan KPK

7 hours Ago

Keluarga telah diizinkan untuk membesuk Setya Novanto di Rutan KPK. Istri didampingi dua kolega…

BERITA LAINNYA