Tekanan Ganda Inflasi

   •    Rabu, 08 Jul 2015 11:31 WIB
inflasi
Tekanan Ganda Inflasi
Pedagang menjajakan bawang merah di Pasar Bandarjo, Ungaran, Kabupaten Semarang, Jateng. Harga bawang merah di daerah tersebut melonjak menjelang Ramadhan. ANTARA/Aditya Pradana Putra

Agus Herta Sumarto, Peneliti Indef

DALAM beberapa bulan ke depan kondisi perekonomian Indonesia sepertinya masih belum bisa beranjak dari warning zone. Bahkan tekanan ekonomi terhadap masyarakat kelas menengah bawah sepertinya akan bertambah berat. Masyarakat kelas menengah bawah akan dihadapkan pada kondisi instabilitas harga komoditas yang masih sangat rapuh. Di sisi lain, peraturan presiden terkait dengan pengaturan harga beberapa komoditas pun diperkirakan akan tumpul dan layu sebelum bersemi. Kondisi ini tentu akan menggerus tingkat kesejahteraan masyarakat dan tentunya akan semakin memperlebar jurang kesenjangan ekonomi antarmasyarakat. Salah satu upaya yang harus dilakukan pemerintah dalam menjaga tingkat kesejahteraan masyarakat ialah dengan menjaga tingkat inflasi.

Namun, dalam beberapa bulan terakhir ini sepertinya pemerintah semakin kesulitan untuk mengendalikan tingkat inflasi. Setidaknya dalam dua bulan terakhir ini tingkat inflasi bulanan telah mencatatkan rekor yang cukup mengkhawatirkan. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat pada April 2015 telah terjadi inflasi sebesar 0,36%. Inflasi April yang mencapai 0,36% itu merupakan inflasi bulanan tertinggi pada April dalam enam tahun terakhir. Inflasi April yang tertinggi sebelumnya terjadi pada 2012, yaitu sebesar 0,21%. Selebihnya, inflasi April selalu di bawah angka 0,2%. Bahkan pada April 2011 dan 2014 terjadi deflasi.

Pada Mei 2015 BPS juga mencatat telah terjadi inflasi sebesar 0,50%. Inflasi Mei yang mencapai 0,50% itu merupakan inflasi bulanan tertinggi pada Mei sejak 2008. Inflasi Mei 2008 merupakan inflasi Mei tertinggi yang mencapai angka 1,41%. Inflasi Mei yang tinggi pada 2008 tersebut disebabkan krisis ekonomi global yang berdampak pada ekonomi nasional. Selebihnya, inflasi Mei selalu di bawah angka 0,3%. Bahkan pada Mei 2013 terjadi deflasi sebesar -0,03%.

Cost push inflation

Pemerintah melalui otoritas kebijakan moneternya biasanya mematok angka inflasi moderat yang terletak di batas atas sehingga perputaran uang terus berjalan optimal dan mengerek daya beli masyarakat ke tingkat yang lebih tinggi. Angka inflasi tahunan biasanya dipatok di atas angka 5% dan di bawah 10%. Dengan angka inflasi sebesar itu diyakini, perekonomian bisa berjalan optimal dengan tingkat daya beli masyarakat yang terjaga atau bahkan bertambah. Inflasi jenis ini disebut dengan demand full inflation.

Lalu, apakah tingginya inflasi pada Mei dan April 2015 merupakan demand full inflation? Tingginya angka inflasi Mei dan April 2015 telah menimbulkan anomali inflasi terhadap perekonomian nasional. Tingginya inflasi pada Mei dan April 2015 yang dibarengi dengan perlambatan pertumbuhan ekonomi dan lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat menandakan ada suatu ganjalan yang menjadi penghalang berputarnya roda perekonomian Indonesia secara maksimal.

Perlu diketahui, pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2015 merupakan angka pertumbuhan ekonomi terendah pascakrisis ekonomi global. Menurut catatan BPS, jika dibandingkan dengan angka pertumbuhan ekonomi 2010, angka pertumbuhan ekonomi kuartal I 2015 turun sebesar 1,67%. Bahkan bila dibandingkan dengan kuartal I 2014, semua sektor dalam perekonomian Indonesia mengalami pertumbuhan yang negatif. Bila dibandingkan dengan kuartal I 2014, rata-rata seluruh sektor perekonomian (industri, konstruksi, pertanian, dan perdagangan) mengalami penurunan sebesar 0,19%.

Jika melihat kondisi ekonomi terakhir, tingginya inflasi bulanan yang terjadi pada Mei dan April 2015 merupakan pertanda bahwa inflasi yang terjadi bukanlah demand full inflation. Inflasi yang tinggi pada Mei dan April 2015 terjadi ketika perekonomian mengalami kontraksi yang cukup berat di saat pertumbuhan ekonomi terus mengalami penurunan, nilai tukar yang cenderung terus merosot, cadangan devisa yang jalan di tempat, dan neraca perdagangan yang sangat rentan terhadap defisit merupakan salah satu indikasi bahwa inflasi yang terjadi ialah cost push inflation, bukan demand full inflation.

Cost push inflation merupakan inflasi tinggi yang diakibatkan kontraksi ekonomi di saat kegiatan perekonomian mengalami penurunan sehingga perputaran uang berkurang dan harga-harga mengalami kenaikan. Tingkat harga yang tergerek naik mengakibatkan harga-harga bahan dan faktor produksi mengalami peningkatan. Dengan meningkatnya harga-harga faktor produksi, pendapatan nasional pun mengalami penurunan dan akan kembali menekan pertumbuhan ekonomi. Tingkat inflasi tinggi yang diakibatkan cost push inflation akan menggerus pendapatan dan daya beli masyarakat secara keseluruhan dan signifikan.

Ekspektasi inflasi

Dalam teori ekonomi modern, tingkat inflasi periode yang akan datang merupakan penambahan dari tingkat inflasi periode saat ini dengan ekspektasi terhadap inflasi yang akan datang. Dua variabel itu yang kemudian menciptakan tingkat inflasi riil pada periode berikutnya.

Sudah menjadi hal yang lumrah di kalangan masyarakat Indonesia bahwa konsumsi masyarakat di bulan puasa dan Hari Raya Idul Fitri akan meningkat. Oleh karena itu, konsekuensi dari hukum ekonominya ialah naiknya harga-harga komoditas pada bulan puasa dan menjelang Hari Raya Idul Fitri tersebut. Kenaikan harga itu yang kemudian menciptakan tekanan terhadap inflasi.

Jika berkaca pada teori inflasi ekonomi modern tadi, sangat masuk akal bila angka inflasi pascabulan puasa dan Hari Raya Idul Fitri akan selalu tinggi. Inflasi yang tinggi pasca bulan puasa dan Hari Raya Idul Fitri merupakan hasil kesepakatan kolektif antara penjual dan pembeli yang secara bersama-sama telah sadar ikut mendorong kenaikan tingkat inflasi.

Dua tekanan sekaligus

Berbeda dengan kenaikan inflasi pada bulan puasa dan hari raya tahun-tahun sebelumnya. Kenaikan inflasi yang terjadi pascabulan puasa dan Hari Raya Idul Fitri tahun-tahun sebelumnya terjadi di saat ekonomi nasional sedang stabil sehingga tingkat inflasi masih bisa dikendalikan pemerintah. Pascabulan puasa dan Hari Raya Idul Fitri tahun ini, tingkat inflasi akan dipengaruhi dua variabel sekaligus, yaitu kontraksi pertumbuhan ekonomi dan ekspektasi masyarakat terhadap inflasi itu sendiri.

Di satu sisi, kondisi perekonomian nasional yang masih lesu akan ikut menciptakan cost push inflation dan di sisi lainnya aspek psikologis masyarakat yang cenderung menoleransi kenaikan harga di bulan puasa dan Hari Raya Idul Fitri akan semakin memperparah tingkat inflasi. Sangat besar kemungkinan inflasi pada Juli mendatang akan tetap tinggi dan mencatatkan rekor kembali sebagai inflasi bulanan tertinggi. Jika pemerintah tetap tidak bisa mengendalikan tingkat inflasi bulanan yang tinggi seperti tiga bulan terakhir ini, tingkat kesejahteraan dan kesenjangan masyarakat akan semakin memburuk.


(ADM)