Cadangan Devisa Minim, BI Susah Intevensi Pasar Uang

Dian Ihsan Siregar    •    Rabu, 08 Jul 2015 14:47 WIB
cadangan devisa
Cadangan Devisa Minim, BI Susah Intevensi Pasar Uang
Ilustrasi -- FOTO: MI/RAMDANI

Metrotvnews.com, Jakarta: Ekonom Universitas Indonesia (UI) Budi Frensidy mengakui posisi cadangan devisa Indonesia sangat rentan bila dijadikan sebagai alat intervensi di pasar uang. Sebab, posisi cadangan devisa Indonesia masih rendah bila dibanding dengan negara Asia lainnya.

"Efek referendum Yunani membuat dolar AS (USD) menguat. Sehingga cadangan devisa banyak dibutuhkan untuk mengintervensi pasar uang. Jikalau dikit, cadangan devisa sangat rentan untuk melakukan intervensi," kata Budi, ketika ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (8/7/2015).

Posisi cadangan devisa Indonesia saat ini mencapai USD108 miliar, atau 13 persen terhadap produk domestik bruto (PDB). Sedangkan Filipina sudah 29 persen, Malaysia 33 persen, dan Thailand 40 persen.

Adapun untuk mengantisipasi rendahnya cadangan devisa, ada beberapa opsi yang dilakukan. Pertama, melalui opsi penerbitan obligasi dalam valuta asing (global bond) yang bisa menyuplai jumlah valuta asing. Kedua, pemerintah harus bisa menjajaki kerja sama dengan negara yang cadangan devisanya besar seperti Amerika Serikat (AS), agar mau menjadi stand by back up bagi Indonesia yang lemah.

"Dengan jumlah penduduk yang besar di Indonesia, rasio cadangan devida terhadap PDB bisa mencapai 30 persen. Tapi, porsi cadangan devisa kita masih aman. Saat ini berada di USD108 miliar, lebih aman bisa mencapai USD200 miliar," ungkapnya.

Selain itu, krisis Yunani yang menolak bailout juga memberikan sentimen positif bagi USD. Sehingga dampaknya berimbas bagi pelemahan rupiah. "Saat ini level Rp13.500 per USD sudah sangat mengkhawatirkan. Saya kira BI perlu intervensi," tutupnya.


(AHL)