Cahaya, Cinta, dan Canda Quraish

Soeharto Terganggu dengan Isu Quraish Shihab Syiah

Tri Kurniawan    •    Rabu, 08 Jul 2015 21:11 WIB
quraish shihab
Soeharto Terganggu dengan Isu Quraish Shihab Syiah

Metrotvnews.com, Jakarta: Presiden Soeharto meminta Muhammad Quraish Shibab menjadi Menteri Agama pada 1998. Quraish coba menolak, tapi Pak Harto tidak memberikan pilihan lain.

Hari masih pagi, Quraish yang saat itu menjabat sebagai Rektor IAIN tinggal di rumah dinas, menerima telepon dari Cendana (kediaman Soeharto di Jalan Cendana, Jakarta Pusat). Perbincangan melalui telepon antara Soeharto dan Quraish sangat singkat.

"Saudara bantu saya ya, sebagai Menteri Agama," kata Soeharto. Quraish menjawab, "Apa tidak ada yang lain, Pak?"

"Oke, bantu saya," Soeharto menimpali keberatan Quraish.

Quraish sudah lama mengenal keluarga Cendana. Ia tahu Pak Harto sudah menyelidikinya sebelum memintanya jadi menteri. Belakangan Quraish tahu dari keluarga dekat, ternyata sang smiling general terganggu dengan isu yang menyebut Quraish penganut Syiah.

Direktur RCTI Andi Ralie menjelaskan soal isu itu ke Bambang, putra ketiga Pak Harto, bahwa Quraish pernah mendukung sikap RCTI melarang kehadiran seorang ulama yang diprotes pemirsa karena diduga menganut Syiah.



Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mengunjungi Soeharto di Jalan Cendana, Jakarta, 31 Desember 2009. Foto: Ali Anwar

Siti Hardijanti Rukmana, putri tertua Pak Harto juga pernah bertanya soal organisasi kemasyarakatan yang diikuti Quraish. "Pak Quraish ini NU atau Muhammadiyah? Bagaimana tanggapannya kalau begini begitu?" tanya Tutut.

Maret 1998, ia pindah dari rumah dinas rektor di Ciputat ke Lapangan Banteng karena sudah jadi menteri.

Tak Merasa Rugi

Takdir berkata lain, Mei di tahun yang sama, Pak Harto lengser. Quraish yang baru dua bulan menjalankan tugas menteri pun ikut turun. Baginya, inilah kehidupan.

"Saya tak merasa rugi. Malah banyak hikmahnya. Saya selalu kembali pada prinsip hidup: awalnya tak punya apa-apa, lalu saya diberi, kalau itu diambil lagi, saya tak rugi," katanya.

Ia bersyukur telah melewati dua bulan menjadi menteri. Keluarga pun tak protes. Mereka paham, Abinya (ayah) lebih menyukai dunia akademik daripada jagad politik. "Kalau saya lanjutkan lagi, tidak mustahil saya terjerumus," katanya.

Quraish menggambarkan perjalanannya dua bulan menjadi Menteri Agama seperti orang yang ingin menulis, tapi baru sempat menorehkan titik.

"Saya harap, Tuhan tak melihat pada banyaknya goresan pena, tapi melihat motivasinya," kata pria kelahiran Rappang, Kabupaten Sidenreng Rappang, Sulawesi Selatan itu.


Cerita tersebut dikutip dari buku Cahaya, Cinta, dan Canda Quraish Shihab karya Mauluddin Anwar, Latief Siregar, dan Hadi Mustofa yang diterbitkan Lentera Hati.


(TRK)

Hakim Tegur Irvanto

Hakim Tegur Irvanto

15 hours Ago

Hakim Yanto menyebut, Irvanto memang berhak membantah keterangan para saksi. Namun demikian, Ir…

BERITA LAINNYA