Kita Harus Sigap dan Tegas Dalam Menghadapi Bahaya ISIS

Antara    •    Jumat, 10 Jul 2015 09:55 WIB
wni gabung isis
<i>Kita Harus Sigap dan Tegas Dalam Menghadapi Bahaya ISIS</i>
Politikus PDI Perjuangan Masinton Pasaribu--Antara/Puspa Perwitasari

Metrotvnews.com, Jakarta: Keberadaan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS) tak boleh dipandang sebelah mata. Meski aktivitas kelompok itu terkonsentrasi di Timur Tengah, namun pemerintah dan masyarakat harus sigap untuk mengantisipasi bahaya yang ditimbulkan.

"Memang mereka berada di Timur Tengah sana. Tapi dari apa yang terjadi selama ini, tentunya kita harus sigap dan tegas dalam menghadapi bahaya ISIS," kata Anggota DPR RI Masinton Pasaribu di Jakarta, Kamis (9/7/2015).

Apalagi, lanjut dia, terbukti telah banyak Warga Negara Indonesia (WNI) yang terkena bujuk rayu ISIS untuk berperang di Suriah dan Irak. Hal ini tentu tidak bisa dibiarkan sehingga harus ada upaya pencegahan dan penanggulangan yang terprogram.

"ISIS ini boleh dibilang licik dan pintar. Mereka menggunakan berbagai media canggih untuk melakukan propaganda. Mereka juga memiliki dana untuk melancarkan setiap aksinya," terangnya.

Masinton menuturkan menjadi tantangan berat bagi bangsa Indonesia untuk memperkuat sendi-sendi kebangsaan dari rongrongan paham radikalisme ISIS. Untuk itu, Masinton mendukung upaya-upaya dari berbagai lembaga terkait
seperti Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) dan Kepolisian dalam mengantisipasi dan mencegah penyebaran paham ISIS.

Ia juga meminta agar upaya-upaya pencegahan, baik itu berupa diskusi, dialog, dan sosialisasi tentang bahaya ISIS, terus dilakukan di seluruh lapisan masyarakat Indonesia, agar mereka tidak memiliki celah menyebarkan
pahamnya di Indonesia.

"Jadi, kita harus bisa bersatu dengan memperkuat ideologi kita yaitu Pancasila, untuk membendung propaganda ISIS tersebut," ujar Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan itu.

Sebelumnya diketahui dua pilot asal Indonesia disebut-sebut  bergabung dengan kelompok Islamic State (ISIS). Kepolisian Australia dikabarkan melacak keberadaan dua pilot Indonesia. Hal ini terungkap dalam dokumen Australian Federal Police (AFP).

Menurut media The Intercept yang mendapatkan dokumen ini. Kedua pilot tersebut diketahui bernama Ridwan Agustin dan Tommy Hendratno.

Media The Intercept merupakan media yang menjadi corong bagi dokumen-dokumen rahasia yang dibobol oleh mantan kontraktor National Security Agency (NSA) Edward Snowden. Berdasarkan dokumen  itu, The Intercept menyebutkan AFP melacak kedua orang itu melalui Facebok sejak September 2014.

Dalam keterangannya, Ridwan Agustin merupakan pilot AirAsia yang sudah bergabung sejak 2009. Dalam akun Facebooknya, Ridwan menunjukkan foto-foto ketika masih pelatihan di kantor Airbus di Tolouse, Prancis bersama tim AirAsia.

Ridwan disebut lulus pelatihan pilot dari AirAsia Academy pada Januari 2010. Bersama AirAsia, dia melintasi rute internasional termasuk Hong Kong dan Singapura serta rute domestik.

Pada September 2014, profil Ridwan Ahmad berubah nama menjadi Ridwan Ahmad Indonesiy. Saat itu dirinya menyatakan keinginan untuk bertempur di Kobani.

Di saat menyuarakan keinginan bergabung ISIS di Suriah, Ridwan berinteraksi dengan pilot Indonesia lainnya dari maskapai berbeda. Pilot itu diketahui juga kerap memposting dukungan untuk ISIS. Sementara pada pertengahan Maret 2015, Ridwan memposting lokasi terakhirnya yang berada di Raqqa, Suriah.


(YDH)

Tim Dokter Pastikan Kondisi Setnov Mampu Jalani Sidang

Tim Dokter Pastikan Kondisi Setnov Mampu Jalani Sidang

36 minutes Ago

Terdakwa kasus korupsi ktp-el Setya Novanto menjalani sidang perdana. Dalam sidang tersebut, ti…

BERITA LAINNYA