Teror Bom Jelang Gelaran Balap Formula 1 di Bahrain

   •    Senin, 15 Apr 2013 19:43 WIB
Teror Bom Jelang Gelaran Balap Formula 1 di Bahrain
Ilustrasi--REUTERS/Hamad I Mohammed/fz

Metrotvnews.com, Dubai: Kelompok oposisi pemuda Bahrain pada Senin menyatakan bertanggung jawab meledakkan sebuah mobil di Manama semalam, yang oleh pihak berwenang dipersalahkan pada "kelompok teroris", hanya beberapa hari menjelang Grand Prix Formula Satu.
   
Tidak ada korban dalam ledakan itu dan tidak ada kerusakan lain selain mobil itu, kata polisi dalam pernyataan.
   
"Kelompok teroris menggunakan tabung gas untuk membakar mobil di Manama pada Minggu (14/4) malam yang menyebabkan ledakan, tidak menyebabkan kerusakan apapun," kata pernyataan itu.
   
Kelompok pemuda radikal Gerakan 14 Februari itu mengaku bertanggung jawab atas ledakan tersebut dalam sebuah pernyataan di akun jejaring Twitter-nya, mengatakan bahwa hal itu ditujukan untuk mengganggu "aktivitas di pusat keuangan Manama sebagai bukti menentang penyelenggaraan balapan Formula Satu" di Bahrain, Minggu.
   
Jasa keamanan Bahrain telah meluncurkan penyelidikan terkait serangan yang ditujukan untuk "menarik perhatian media" sebelum balapan kontroversial itu, menurut Kantor berita resmi BNA mengutip seorang pejabat pemerintah.
   
Ledakan di Manama terjadi saat polisi menembakkan gas air mata dan bom suara untuk membubarkan para demonstran yang meneriakkan "tidak, tidak untuk F1" di beberapa desa Syiah di sekitar ibu kota pada Minggu malam, kata saksi. Tidak ada laporan adanya korban dalam aksi protes itu.
   
Pemerintahan Sunni yang memimpin Bahrain telah bersumpah untuk mengambil langkah-langkah keamanan "tepat" menjelang pelaksanaan  Grand Prix 19-21 April seiring dengan upaya pengunjuk rasa Syiah menggelar aksi unjuk rasa setiap hari.
   
Di bawah bendera "Demokrasi adalah hak kita", kelompok oposisi utama Syiah menyelenggarakan aksi unjuk rasa selama sepekan mulai pada Jumat menjelang balapan.
   
Kelompok syiah utama, Al-Wefaq, mengatakan pada Minggu bahwa 98 orang telah ditangkap dan 31 orang terluka dalam bentrokan dengan polisi selama bulan ini.
   
Menurut organisasi Human Rights Watch, polisi telah mengumpulkan para aktivis pro-demokrasi dalam upaya untuk mencegah aksi protes di  negara Teluk yang menjadi tuan rumah Grand Prix F1.
   
Tahun lalu Grand Prix Bahrain diwarnai aksi tembakan gas air mata polisi dan bom suara untuk membubarkan pengunjuk rasa yang melemparkan batu dan bom bensin.
   
Bahrain diguncang oleh aksi protes pro-demokrasi selama sebulan yang dipimpin oleh kelompok mayoritas Syiah di kerajaan itu pada awal tahun 2011 yang berhasil dihancurkan dengan bantuan pasukan pimpinan Arab Saudi.
   
Aksi protes terus menerus terjadi di desa-desa Syiah di luar ibu kota. Kelompok hak asasi manusia mengatakan total 80 orang telah tewas sejak Februari 2011. (Antara)