Saham Binakarya Oversubscribed 2x

Dian Ihsan Siregar    •    Selasa, 14 Jul 2015 12:39 WIB
binakarya jaya abadi
Saham Binakarya <i>Oversubscribed</i> 2x
Ilustrasi -- ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

Metrotvnews.com, Jakarta: Emiten pengembang properti, PT Binakarya Jaya Abadi Tbk (BIKA), mengalami kelebihan permintaan saham (oversubscribed) dua kali dari saham yang ditawarkan saat menjalankan penawaran umum perdana saham atau initial public offrering (IPO).

"Tanggapan investor terhadap saham perseroan sangat positif, di tengah situasi pasar modal yang penuh tantangan, tapi kami kelebihan dua kali permintaan," kata Presiden Direktur Binakarya Jaya Abadi Budianto Halim, ketika ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta, Selasa (14/7/2015).

Direktur Corporate Finance PT RHB OSK Securities Indonesia Shiantagara menambahkan, kelebihan permintaan terjadi pada saat masa penawaran pada 2-8 Juli 2015. Sementara permintaan dari investor ritel lokal mengalami kelebihan permintaan hingga 60 kali.

"Ritel lokal oversubscribe 50-60 kali tetapi kita alokasikan hanya dua persen agar tidak volatile. Sementara porsi asing mencapai 80 persen, tetapi investor institusi kepemilikan saham tidak lebih dari lima persen," tuturnya.

Seperti diketahui, Binakarya Jaya Abadi resmi melabuhkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI). Perseroan melepas 150 juta saham untuk ditawarkan ke publik, dari rencana semula sebanyak 238,15 juta saham. Saham BIKA dibuka pada level Rp1.440 per saham atau melesat 440 poin dari harga penawaran Rp1.000 per saham.‬ Harga tertinggi di level Rp1.500 per saham dan terendah Rp1.400 per saham.

Perseroan membukukan frekuensi perdagangan saham sebanyak 32 kali, dengan volume transaksi saham 2.900 lot senilai Rp450 juta.‬ ‪"Pencatatan saham ini merupakan peristiwa bersejarah sekaligus menjadi tantangan baru bagi kami," ujar Presiden Direktur BIKA Budianto Halim.

Jumlah saham yang akan dilepas perseroan tercatat sebesar 150 juta saham dengan harga yang ditawarkan sebesar Rp1.000 per saham, serta harga nominal Rp100 per saham. Artinya, dengan menawarkan harga Rp1.000 per saham, maka dana segar yang bisa diraih perseroan sebesar Rp150 miliar.


(AHL)