Kisruh Golkar Jadi Alasan Netizen Ingin Menkumham Diganti

M Rodhi Aulia    •    Rabu, 15 Jul 2015 05:52 WIB
reshuffle kabinet
Kisruh Golkar Jadi Alasan Netizen Ingin Menkumham Diganti
Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly -- ANTARA/Vitalis Yogi Trisna

Metrotvnews.com, Jakarta: PoliticaWave menempatkan Menteri Hukum dan HAM Yasonna Laoly di posisi lima besar menteri yang direkomendasikan untuk di-reshuffle. Menteri Yasonna dianggap berperan atas kisruh Partai Golkar yang terjadi.

PolticaWave melakukan pemantauan khusus di sejumlah media sosial, terhadap isu reshuffle kabinet sejak 1 Mei hingga 8 Juli 2015. Dari sana terekam sebanyak 92.979 percakapan yang muncul dari 15.512 akun yang berbeda-beda.

Dari data yang dirilis PoliticaWave, 91 persen Netizen berpandangan Yasonna pantas di-reshuffle karena ketidakberdayaan menyelesaikan kisruh Partai Golkar yang hingga detik ini tidak jelas. Sebanyak delapan persen, karena kontroversi revisi Undang-undang KPK dan satu persen minim terobosan.

Founder PoliticaWave Yose Rizal mengatakan, penilaian Netizen tersebut berdasarkan dua indikator utama yang tak dapat dipisahkan. Kinerja sang menteri dan kemampuan dalam mengkomunikasikannya kepada publik dengan baik.

"Ini semua kami kumpulkan berdasarkan percakapan Netizen di media sosial dan di online media, dengan menggunakan keyword yang berafiliasi dengan menteri dan memfilternya. Setelah itu, ditarik kemudian ditentukan sentiment dari setiap percakapan. Ada netral, negatif dan positif," ungkap Yose dalam sebuah diskusi di bilangan Jalan KH Agus Salim, Jakarta Pusat, Selasa 14 Juli 2015.

Dari sejumlah percakapan, Yasonna paling direkomendasikan untuk direshuffle dari 17 menteri yang tersorot. Empat besar layak di-reshuffle adalah Menko Perekonomian Sofyan Djalil, Menteri ESDM Sudirman Said, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro dan Menpora Imam Nahchrawi.

Yose berkesimpulan, Menteri diminta melakukan sejumlah hal agar desakan publik untuk reshuffle menteri berkurang. Di antaranya memiliki kemampuan dan keahlian di bidangnya, kebijakan sesuai aspirasi rakyat, berpihak pada ekonomi lokal, tidak memiliki agenda pribadi dan partai, fokus pada pekerjaan dan tidak mengurus hal yang bukan bidangnya.

Saran lain yakni cermat dalam membuat kebijakan sehingga tidak cepat direvisi, tidak mengeluarkan pernyataan yang kontroversial atau blunder, berani melakukan terobosan dan inovasi dan Menko perlu memilki kemampuan koordinasi.

"Selain itu, ada banyak juga nama yang jarang dibicarakan oleh Netizen. Bukan karena tidak puas dengan kinerjanya, akan tetapi karena Netizen tidak mengetahui informasi apapun terkait kinerja mereka. Seharusnya di era komunikasi sekarang, menteri harus bisa mengkomunikasikan program kerjanya agar rakyat paham. Bahwa pemerintahan ini terus bekerja," pungkas dia.

Pengamat Politik Ikrar Nusa Bakti menilai survei yang dilakukan PoliticaWave tidak semuanya benar. Sebab, banyak juga Netizen yang hanya paham permukaan saja, dan tidak memiliki informasi yang memadai.

Dia mencontohkan, desakan kepada Mendag Rahmat Gobel agar di-reshuffle karena membuka kran impor. Kata dia, seharusnya agar perekonomian internasional bergairah, semua negara harus terjadi ekspor-impor, satu sama lain.

Ekonom Faisal Basri juga menambahkan, alasan Netizen yang ingin agar Menteri ESDM Sudirman Said di-reshuffle lantaran menggunakan fasilitas jet milik Petral adalah salah besar. Kata dia, Sudirman Said berangkat dari Singapura ke Lhokseumawe, Aceh dengan pesawat milik Pertagas.

"Enggak mungkinkan, dia di Singapura jam 9 malam, terus harus ke Lhokseumawe. Pesawat komersil lain kan sudah tidak ada. Tapi pakai pesawat Pertagas yang mengundang dia untuk hadir di sebuah acara," terang Faisal.


(SUR)