Hillary Clinton Tak Akan Membiarkan Iran Miliki Senjata Nuklir

Fajar Nugraha    •    Rabu, 15 Jul 2015 11:23 WIB
nuklir iran
Hillary Clinton Tak Akan Membiarkan Iran Miliki Senjata Nuklir
Kandidat Presiden AS dari Partai Demokrat, Hillary Clinton (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Washington: Kesepakatan nuklir Iran dengan beberapa negara besar, dijadikan komoditi politik Amerika Serikat (AS). Kandidat Presiden AS dari Partai Demokrat berjanji tidak akan membiarkan Iran memiliki senjata nuklir jika dia jadi Presiden AS.

Komentar Clinton Dikeluarkan di tengah nada skeptis muncul dari Kongres AS dan Israel mengenai kesepakatan ini. Kedua pihak itu menilai kesepakatan ini bisa memberikan Iran jalan menuju kepemilikan senjata nuklir.

"Sebagai presiden, saya akan menggunakan segala macam cara agar Iran tidak bisa memiliki senjata nuklir," jelas Hillary, seperti dikutip Associated Press, Rabu (15/7/2015).

"Pesannya sudah sangat jelas. Kami tidak akan membiarkan Anda (Iran) memiliki senjata nuklir. Bukan hanya saat kesepakatan ini berlangsung," tegasnya.

Mantan Menteri Luar Negeri AS itu mengatakan, pihaknya masih mempelajari detail dari kesepakatan itu. Namun pada intinya dia mendukung kesepakatan yang baru saja diraih pada 14 Juli 2015 itu.

"Berdasarkan laporan yang saya terima dan mengkaji dokumen tersebut, saya mendukung kesepakatan itu karena bisa membantu kita mencegah Iran memiliki senjata nuklir," ucap mantan Ibu Negara AS tersebut.

"Dengan pengawasam ketat, verifikasi menyeluruh dan memberikan konsekuensi atas pelanggaran kesepakatan, perjanjian ini bisa membuar AS, Israel dan Negara Arab lebih aman," imbuh Clinton.

Berdasarkan kesepakatan tersebut, Iran akan mendapatkan bantuan sebesar USD18 miliar asalkan mereka melucuti dua per tiga mesin sentrifugalnya. Perjanjian juga meliputi surat protes jika Iran gagal untuk melucuti mesin miliknya dalam waktu 65 hari dan sanksi awal pun kembali diberlakukan.

Sementara atas bantuan itu, Iran akan membuka diri untuk mengizinkan pengawas dari PBB agar lokasi militernya diperiksa. Namun para pengawas ini tidak mendapatkan jaminan akan meraih akses tersebut.

Kesepakatan ini dicapai antara Iran pada 14 Juli 2015 di Wina, Austria. Saat itu Iran dan negara-negara anggota P5+1 (AS, Inggris, Perancis, Rusia, Tiongkok, Jerman) melakukan pertemuan mengenai Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) program nuklir Iran.
 


(FJR)

Pernyataan Pengacara Novanto Memprihatinkan

Pernyataan Pengacara Novanto Memprihatinkan

34 minutes Ago

Fredrich dianggap melewati batas dalam memberikan keterangan dan informasi tentang Novanto yang…

BERITA LAINNYA