Telusuri Kasus Adriansyah, KPK Periksa Bupati Tanah Laut

Yogi Bayu Aji    •    Rabu, 15 Jul 2015 11:49 WIB
adriansyah
Telusuri Kasus Adriansyah, KPK Periksa Bupati Tanah Laut
KPK. Foto: Panca Syurkani/MI

Metrotvnews.com, Jakarta: Komisi Pemberantasan Korupsi memanggil Bupati Tanah Laut Bambang Alamsyah. Dia akan dimintai keterangan dalam kasus dugaan suap izin pertambangan di Tanah Laut.

"Dia akan diperiksa sebagai saksi untuk tersangka A (Adriansyah)," kata Kepala Bagian Pemberitaan dan Publikasi KPK Priharsa Nugraha, saat dikonfirmasi, Rabu (14/7/2015).

Bambang merupakan anak dari Adriansyah. Sebagai penerus Adriansyah yang sempat menjadi bupati Tanah Laut, Bambang diduga tahu banyak bagaimana proses perizinan itu dijalankan sang ayah. Ini adalah panggilan kedua bagi Bambang. Sebelumnya, dia pernah diperiksa pada Selasa 5 dan 27 Mei 2015 lalu.

Kuat dugaan, hari ini, Bambang juga bakal dimintai kesaksian soal dugaan aliran uang suap yang diterima  Adriansyah. Informasi yang dihimpun ada aliran uang suap yang diterima Andriansyah melalui Bambang.

Bersama dengan Bambang, penyidik juga memanggil staf seksi pembinaan pengusaha pertambangan dan energi Tanah Laut, Muhammad Jumaidi. Selain itu, KPK juga memanggil Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto.

"Mereka juga akan diminta keterangan untuk tersangka yang sama," jelas Priharsa.

Dalam kasus dugaan suap di Tanah Laut, lembaga antikorupsi sudah menetapkan dua tersangka. Mereka adalah anggota DPR Fraksi PDI Perjuangan sekaligus mantan Bupati Tanah laut Adriansyah dan Direktur PT Mitra Maju Sukses Andrew Hidayat.

KPK menjerat Adriansyah dengan pasal 12 huruf b atau Pasal 5 ayat 2 juncto Pasal 5 ayat 1 huruf b atau Pasal 11 Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 64 ayat 1 KUHPidana. Sementara, Andrew Hidayat diduga melanggar Pasal 5 ayat 1 huruf b atau Pasal 13 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto pasal 64 ayat 1 KUHP.

Adriansyah dan Andrew terjaring dalam operasi tangkap tangan KPK  pada Kamis 9 April lalu. Saat penangkapan, KPK mengamankan sejumlah uang terdiri dari pecahan seribu dollar Singapura sebanyak 40 lembar, 485 lembar pecahan Rp100 ribu, lalu 147 lembar pecahan Rp50 ribu.

Dalam dakwaan, Andrew disebut menyuap Adriansyah agar membantu pengurusan izin pertambangan sejumlah perusahaan yang dikelolanya di Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Andrew memberikan uang sebesar USD50 ribu  kepada Adriansyah pada 13 November 2014.

Beberapa hari kemudian, Andrew kembali memberikan uang sebesar Rp500 juta kepada Adriansyah. Pada 28 Januari 2015, dia kembali memberikan uang lagi kepada Adriansyah sebesar Rp500 juta. Uang ini dikirimkan melalui orang suruhan Andrew, Briptu Agung Krisdiyanto.

Andrew kembali memberi uang sebesar 50 ribu dollar Singapura pada 8 April 2015 atas permintaan Adriansyah. Adriansyah lalu meminta uang tersebut dikonversi ke rupiah menjadi Rp50 juta. Mereka menyepakati transaksi dilakukan di Sanur Hotel Swiss Belhotel, Bali, saat berlangsungnya kongres PDI Perjuangan.

Agung pun berangkat ke Bali pada 9 April dengan membawa 44 ribu dollar Singapura dan Rp57,36 juta. Fulus disimpan dalam amplop cokelat dan diberikan Agung kepada Adriansyah.

"Ini Pak ada titipan amanah dari Pak Andrew. Dan untuk permintaan bapak juga sudah saya tukarkan. Semua kuitansi penukarannya juga ada di amplop tersebut," kata Jaksa, menirukan ucapan Agung kepada Adriansyah.

Adriansyah lalu memberi Rp1,5 juta dari amplop tersebut kepada Agung untuk biaya menginap di hotel. Agung dan Adriansyah kemudian ditangkap penyidik KPK dan uang tersebut disita sebagai barang bukti.



(KRI)