Donald Trump Paling Populer di Antara Bakal Capres AS dari Republik

Fajar Nugraha    •    Kamis, 16 Jul 2015 09:26 WIB
donald trump
Donald Trump Paling Populer di Antara Bakal Capres AS dari Republik
Donald Trump dianggap yang paling populer (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Washington: Donald Trump menjadi sosok terpopuler di antara bakal calon Presiden Amerika Serikat (AS) dari kubu Partai Republik.

Pengusaha properti ini menduduki peringkat pertama dalam jajak pendapat dari Suffolk University dengan perolehan 17 persen. Trump mengungguli mantan Gubernur Florida Jeb Bush yang mendapatkan 14 dukungan dan Gubernur Wisconsin Scott Walker dengan 8 persen.

Hal ini berbeda dari jajak pendapat sebelumnya di mana Trump berada di posisi kedua di belakang Bush.

Sikap Trump yang 'blak-blakan' soal imigrasi ilegal sepertinya sukses menggalang dukungan dari para pemilih konservatif. Acara kampanyenya di Arizona baru-baru ini dibanjiri warga setempat.

"Saya menghormati Meksiko sebagai sebuah negara. Tapi masalahnya pemimpin mereka lebih pintar, tajam dan lihai dibandingkan pemimpin negara ini dan mereka mengakali kita di perbatasan dan mereka mengakali mereka dalam perdagangan. Mereka mengakali kita!" ujar Trump, seperti dikutip VOA Indonesia, Kamis (16/7/2015).

Menurut pengamat Partai Republik Scot Faulkner, Trump begitu tidak terkendalinya sehingga dianggap menyegarkan. Inilah yang menjadi pemicu mengapa ia sekarang paling populer dibanding yang lainnya.

Tapi komentar Trump yang menyebut imigran gelap sebagai 'kriminal' dan 'pemerkosa' telah mengundang reaksi negatif dari kelompok-kelompok imigran di seluruh AS. Ucapan itu dianggap dapat melukai reputasi Partai Republik dalam jangka panjang.​

"Ia menyebut kami kriminal. Ia menyebut kami pemerkosa. Kami bukan kriminal maupun pemerkosa," tutur aktivis keimigrasian Jorge Mario Cabrera dalam sebuah demonstrasi menentang Trump di California.

Seorang delegasi dari negara bagian Maryland, Joseline Pena-Melnyk, juga mengkritik posisi Trump dalam isu imigrasi dalam aksi protes di dalam hotel yang dimiliki Trump di pusat kota Washington.

"Kami punya kekuatan ekonomi. Kami bagian besar dari perekonomian ini dan kami tidak akan menerima penghinaannya begitu saja!," tegas Pena-Melnyk.

Kandidat calon presiden dari Partai Demokrat juga telah melayangkan kritik mereka terhadap Trump, mulai dari Hillary Clinton hingga Bernie Sanders dan mantan gubernur Maryland Martin O'Malley.

"Kalau Donald Trump ingin menjadi calon presiden dengan menjadikan imigran sebagai musuh, ia harus kembali ke tahun 1840an dan mencalonkan diri jadi calon dari partai yang tidak tahu apa-apa!," sebut O'Malley kepada sebuah kelompok hak-hak warga keturunan Hispanik di Kansas City.

Sementara itu, kebanyakan bakal calon presiden dari Partai Republik tampak berhati-hati menanggapi Trump saat ini. Namun Jeb Bush menyebut Trump mengusung 'retorika yang memecah-belah' dan ia tidak ingin 'dikaitkan dengan pernyataan penuh kebencian yang dilontarkan Trump akhir-akhir ini'.

Para tokoh partai tampak khawatir perkataan-perkataan dari Trump mengenai imigrasi ilegal dapat merugikan partai bulan November tahun depan saat Partai Republik berharap dapat memenangkan suara dari kelompok Hispanik, yang biasanya mendukung Partai Demokrat.

"Ia punya waktu dari sekarang hingga mungkin pemilihan pendahuluan di New Hampshire. Dia akan jadi pusat perhatian dan ia seseorang yang suka jadi pusat perhatian dan ia akan mengatakan hal-hal yang mengguncang semua orang, dalam bisa berarti baik maupun buruk," ujar Scot Faulkner.

Walaupun begitu, kebanyakan pengamat memperkirakan popularitas Trump tidak akan bertahan lama. "Ia tentunya kandidat yang dikenal orang banyak, terkenal sering berkata-kata yang kontroversial. Ia akan dapat meraih perhatian, terutama dalam isu seperti imigrasi. Tapi pada akhirnya, ia tidak akan memenangkan nominasi ataupun punya kemungkinan memenangkan nominasi," ujar John Fortier dari Bipartisan Policy Center di Washington.​

Apakah Trump mampu mempertahankan popularitasnya dalam jajak pendapat akan diuji saat 10 bakal calon presiden dari Partai Republik bertarung dalam debat pertama untuk pemilihan presiden 2016 pada 6 Agustus di Cleveland, Ohio.


(FJR)