Rupiah Lemah, Pemerintah Harus Waspadai Efek Tiongkok

Dian Ihsan Siregar    •    Sabtu, 18 Jul 2015 06:57 WIB
tiongkok
 Rupiah Lemah, Pemerintah Harus Waspadai Efek Tiongkok
rupiah (MI, ROMMY PUJIANTO)

Metrotvnews.com, Jakarta: Kepala ekonom PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) Anggito Abimanyu mengatakan saat ini posisi tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sangatlah berat. Namun, yang paling penting tidak bergejolak secara cepat.

"Berat, terpenting tidak bergejolak, kalau pun lemah, memang kondisi fundamental dari global. Efek dari Yunani dan Tiongkok yang membuat rupiah anjlok," kata Anggito kepada Metrotvnews.com, seperti diberitakan Jumat (17/7/2015).

Menurut Anggito, sentimen Tiongkok lebih penting diantisipasi oleh pemerintah ketimbang sentimen Yunani. Sebab, jika Tiongkok mengalami penurunan pertumbuhan ekonomi satu persen saja, maka ekonomi Indonesia diperkirakan ikut melemah sebesar 0,3 persen.

"Itu yang paling besar, pemerintah harus antisipasi Tiongkok dibanding Yunani, kita punya kerja sama perdagangan dan keuangan yang cukup baik, jadi kalau mereka turun, kita juga terkena imbasnya," ungkapnya.

Disaat kondisi rupiah melemah, Bank Indonesia (BI) memang bisa menggunakan kebijakan moneter dalam mengurangi volatilitas rupiah yang sedang tidak beraturan. Caranya bisa menggunakan cadangan devisa, agar bisa melakukan intervensi di pasar uang.

Tidak hanya itu, BI juga bisa menjinakkan rupiah dengan cara melakukan transaksi swap. Kedua langkah itu bisa dilakukan oleh BI, tapi BI memiliki pikiran yang panjang untuk memilih cara yang terbaik.

"Rupiah yang penting tidak fluktuatif, USD menguat yang lain juga melemah. Melemah lembutlah, biar ada kepastian untuk pelaku pasar. Saat ini rupiah sudah tidak nyaman, kita paling terdepresiasi," jelas dia.


(SAW)