Kekurangan Tenaga Kerja Terampil di AS Meningkat

Eko Nordiansyah    •    Senin, 20 Jul 2015 14:59 WIB
amerika serikattenaga kerja
Kekurangan Tenaga Kerja Terampil di AS Meningkat
Ilustrasi (ANTARA FOTO/R. Rekotomo)

Metrotvnews.com, Washington: Pengusaha di Amerika Serikat (AS) semakin kesulitan untuk menemukan pekerja terampil. Menurut survei, hal ini disebabkan oleh tingginya tekanan pada pertumbuhan upah.

Asosiasi Ekonomi Bisnis Nasional menemukan bahwa sebanyak 35 persen dari 112 ekonom yang ikut melaporkan perusahaan mereka telah melihat kekurangan tenaga kerja terampil selama kuartal yang berakhir Juli. Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan survei April yang hanya 25 persen dan naik tajam dari 22 persen selama kuartal Juli tahun lalu.

"Laporan panel dengan nyata melihat peningkatkan kekurangan terutama tenaga kerja terampil dalam survei Juli," ujar Ketua Survei yang juga direktur senior di IHS Ekonomi Jim Diffley, seperti dikutip Reuters, Senin (20/7/2015).

Survei NABE yang terbaru menyarankan pengetatan di pasar tenaga kerja. Sementara itu pada awal Juli, Federasi Bisnis Independen Nasional mengatakan bahwa 44 persen dari usaha kecil melaporkan hanya sedikit atau bahkan tidak ada pelamar yang memenuhi kualifikasi untuk posisi yang mereka cari.

Meskipun pertumbuhan pekerjaan telah dipercepat dan tingkat pengangguran telah menurun ke posisi terendah tujuh tahun terakhir, namun hal tersebut belum disertai dengan pertumbuhan upah yang kuat.

Survei NABE juga menemukan, pangsa perusahaan mengantisipasi kenaikan upah dalam tiga bulan ke depan, yang naik menjadi 49 persen dari 46 persen dalam jajak pendapat April dan 35 persen dari tahun lalu.

Pangsa mereka yang melaporkan kenaikan upah yang sebenarnya selama tiga bulan terakhir tetap di 42 persen, sedikit berubah dari 43 persen tahun lalu tapi sedikit turun dari 45 persen pada bulan April.

"Sebagai seorang ekonom, kami agak terkejut bahwa tekanan upah telah begitu diredam ke titik ini. Kami berharap percepatan dan bahkan merasa perlu untuk melanjutkan pemulihan," jelas Diffley.

Para ekonom yang disurvei telah mewakili spektrum yang luas dari bisnis, termasuk barang-barang produksi, transportasi, keuangan dan industri jasa. Bahkan, hampir dari 47 persen dari perusahaan mempekerjakan lebih dari 1.000 orang.


(ABD)