Bentrokan di Tolikara, Psikolog: Jangan Percaya Media Sosial

Intan fauzi    •    Senin, 20 Jul 2015 19:50 WIB
penyerangan
Bentrokan di Tolikara, Psikolog: Jangan Percaya Media Sosial
Kerusuhan di Tolikara

Metrotvnews.com, Jakarta: Masyarakat diminta tidak mudah terprovokasi oleh bentrokan yang terjadi di Tolikara, Papua, pada 17 Juli. Diduga ada orang yang tak bertanggung jawab berusaha menggunakan isu agama untuk menghancurkan kesatuan bangsa.
 
Psikolog dari Universitas Indonesia Sarlito Wirawan mengatakan, isu agama menjadi salah satu pemicu yang mudah untuk merusak kesatuan Indonesia.
 
"Masalah di bangsa ini adalah kesatuan dan salah satu paling besar adalah agama. Kalau itu dimainkan dan masyarakat terprovokasi, bisa hancur. Sebelum di Tolikara kita sudah lihat di Madura soal syiah, banyak ditunggangi," kata Sarlito di Prime Time News Metro TV, Senin (20/7/2015).
 
Menurut Sarlito, banyak sekali konten-konten bohong yang tersebar di media sosial hanya untuk memprovokasi kelompok tertentu. Untuk itu, ia mengimbau masyarakat tak mudah percaya isu yang beredar.
 
"Saya percaya di Papua tak terlalu sulit menetralisir situasi, yang menjadi masalah di balik itu, yang berkembang di media sosial yang langsung di copas dan berkembang. Bangsa ini bangsa multiagama, suku, etnik, dan sebagainya. Isu suku, agama, ras antar golongan harus kita jaga. Hati-hati," jelas Sarlito.
 
Sarlito meminta masyarakat bersabar dan menunggu pernyataan dari pemerintah terkait peristiwa yang terjadi di Tolikara. "Sekarang harus cepat memberikan informasi sejelas-jelasnya dan terbuka, jadi orang tak mencari informasi di sosial media karena sosial media acak-acakan. Informasi resmi dari pemerintah dan polisi harus cepat," terangnya.
 
Seperti diketahui, kerusuhan terjadi di Karubaga, Kabupaten Tolikara, Papua, Jumat 17 Juli kemarin. Insiden ini terjadi disaat umat Islam tengah menjalankan salat Id di halaman Koramil. Puluhan kios yang juga tempat tinggal warga serta satu tempat ibadah umat Islam hangus terbakar. Dalam kasus ini, tercatat sebanyak 11 orang mengalami luka tembak dan satu orang tewas.
 
Sinode Gereja Injili di Indonesia (GIDI) mengeluarkan surat edaran yang tersebar sebelum Hari Raya Idul Fitri di Kabupaten Tolikara, Papua. Surat itu disebut-sebut menjadi salah satu alasan konflik yang terjadi di sana. Isi surat edaran tersebut berupa pembatasan ibadah Idul Fitri di Tolikara.


(FZN)