Menyeluruh Memulihkan Tolikara

   •    Rabu, 22 Jul 2015 07:14 WIB
tolikara riot
Menyeluruh Memulihkan Tolikara

SUDAH hampir seminggu berlalu, kejadian di Tolikara, Papua, masih menyisakan kegetiran bagi bangsa ini. Tidak hanya mengoyak kedamaian di bumi Papua yang dikenal penuh toleransi, peristiwa itu juga meninggalkan korban trauma yang jumlahnya tak sedikit. Mereka ialah bagian dari ratusan pengungsi, sebagian anak-anak, yang menjadi korban dari pembakaran kios dan rumah oleh sekelompok orang saat Idul Fitri pekan lalu. 

Trauma berkepanjangan berpotensi menghantui mereka, terutama anak-anak, di lokasi kejadian. Ini perlu kita garis bawahi karena masalah sosial kerap terlupakan ketika semua pihak fokus kepada sisi penuntasan penegakan hukum terhadap pelaku. Kedua hal, yakni rehabilitasi fisik sosial dan penegakan hukum, ditambah dengan upaya pemulihan toleransi, harus berjalan integral dalam penanganan insiden Tolikara. 

Kehadiran negara betul-betul mesti terlihat untuk menyelesaikan tiga urusan besar tersebut. Karena itu, kita dan tentu juga pemerintah cukup sampai di sini saja mengobral kata-kata penyesalan atas kasus tersebut. Ada hal lebih penting yang mesti dilakukan alih-alih terus-terusan melontarkan kecaman, kekesalan, atau bahkan penyataan bodoh yang malah memanaskan keadaan.

Hukum jelas harus segera ditegakkan. Negara harus menghukum siapa pun, dari kelompok mana pun, yang terbukti melanggar hukum dalam peristiwa Tolikara. Penuntasan hukum yang tidak berkepanjangan akan menghilangkan spekulasi-spekulasi di masyarakat sehingga permasalahan tidak berkembang dan meluas. Kita meminta Polri mengusut tuntas kasus Tolikara.

Namun, pada saat yang sama, masalah sosial dan rusaknya toleransi juga membutuhkan pendekatan dan penanganan yang tak kalah serius. Kini, Tolikara bukan lagi sebuah ujian keberagaman bagi negara ini. Kasus itu juga menguji apakah pemerintah mampu menangani dampak dari peristiwa tersebut.

Betul bahwa sudah ada pernyataan pemerintah daerah akan memberi bantuan modal usaha kepada warga yang kiosnya terbakar. Bantuan juga diberikan kepada warga lain yang merugi. Begitu pula pemerintah pusat yang akan memberikan jaminan hidup sebesar Rp20 ribu per orang per hari selama 90 hari. Pengungsi pemilik kios yang terbakar pun memiliki kesempatan mendapatkan bantuan renovasi.

Tugas pemerintah sekarang ialah memastikan semua rencana itu segera direalisasikan. Karena itu, kita amat berharap kunjungan tiga menteri, yakni Menteri Dalam Negeri, Menteri Sosial, serta Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, ke Tolikara, kemarin, semestinya tidak sekadar menjadi kunjungan seremonial ke lokasi kejadian.

Tentu kita ingin kehadiran para pembantu presiden, siapa pun itu, betul-betul langsung dimanfaatkan untuk mempercepat eksekusi penanganan. Bukan lagi hanya mengumbar retorika tanpa penyelesaian. Kita butuh kerja cepat supaya suasana adem yang sudah terjaga sejak kejadian Jumat pagi itu tak berubah menjadi panas dan ruwet hanya karena ketiadaan progres penyelesaian dari semua sisi.

Pada saat yang sama kita juga akan mengawal janji dari Gubernur Papua Lukas Enembe yang akan menyelesaikan kasus Tolikara secara elegan tanpa ada persoalan baru. Jangan sampai kejadian yang sudah-sudah berulang, yakni pemerintah rajin memproduksi janji, tapi absen saat harus merealisasikan janji tersebut.


Pengamanan Setnov di RSCM Berkurang

Pengamanan Setnov di RSCM Berkurang

40 minutes Ago

Ketua DPR Setya Novanto masih menjalani perawatan intensif di RSCM, Jakarta Pusat. Pengamanan d…

BERITA LAINNYA