Kesal Tiga Kali Kecopetan di Bus Merak, Tito Lapor Presiden

Tri Kurniawan    •    Kamis, 23 Jul 2015 12:43 WIB
presiden jokowi
Kesal Tiga Kali Kecopetan di Bus Merak, Tito Lapor Presiden
Presiden Joko Widodo (kanan) dan Jaksa Agung H.M. Prasetyo (kiri) memberi penghormatan pada upacara peringatan ke-55 Hari Bhakti Adhyaksa di Kejaksaan Agung, Jakarta, Rabu 22 Juli 2015. Foto: MI/Arya Manggala

Metrotvnews.com, Jakarta: Presiden Joko Widodo membuka ruang publik untuk mengadukan setiap masalah melalui laman laporpresiden.org. Sejak dibuka pada Mei, laporan yang masuk sangat beragam.

Ada yang melapor ke Presiden soal korupsi, kisruh sepak bola nasional, arogansi pejabat, ormas yang meresahkan, konflik KPK-Polri, narkotika. Selain itu, ada juga yang mengadukan soal keberadaan warung remang-remang, kehabisan tiket, dan aksi copet di bus umum.

Kemarin, Syah Reza F, warga Jatisampurna, Bekasi, mengeluh ke Presiden terkait banyaknya diskotek kampung atau warung remang-remang yang menjual minuman keras di kampungnya. Dia menduga, warung itu juga menyediakan wanita pemuas nafsu.

"Surat ini saya sampaikan dikarenakan saya sudah tidak tahu harus seperti apa mencari jalan keluarnya," tulisnya. "Mohon kepada Bapak Presiden supaya diberantas karena dampak bagi anak anak dan lingkungan yang tidak aman."

Sedangkan Tito Doni Asmoro menyampaikan keresahannya di laman laporpresiden.org terkait maraknya copet di bus umum jurusan Merak-Cikarang. Tito sudah tiga kali menjadi korban. Ia berharap aparat bertindak.

"Setiap perjalanan saya, selalu ada copet yang beraksi di dalam bus. Mereka beraksi ketika penumpang tidur," kata Tito.

Vrenky Simatupang berharap bantuan pemerintah karena tiket pesawat dari Padang menuju Jakarta untuk penerbangan 24 hingga 27 Juli sudah habis terjual. "Saatnya pemerintah turun tangan untuk memberikan jadwal tambahan," terangnya.

Laporan yang masuk ke laman laporpresiden.org. sudah menyentuh angka 1.000. Setiap jam, selalu ada laporan yang masuk. Mayoritas aduan terkait isu nasional.



Jokowi bertemu masyarakat saat Lebaran di Solo. Foto: MI

Pada Mei, laporan yang paling banyak disampaikan ke Presiden terkait kondisi sepak bola nasional (320 votes), kriminalisasi (266 votes), Novel Baswedan (134 votes), arogansi wali kota Tegal (102 votes), dan hukuman mati koruptor (64 votes).

Laporan terbanyak pada Juni, yakni menolak pembangunan sentra PKL SMKN 5 (225 votes, hukuman mati penjual narkoba (71 votes), ormas meresahkan (69 votes), kisruh menpora-PSSI (63 votes), dan konflik KPK-Polri (55 votes).


(TRK)