Banyak Kesaksian Kunci Tak Ada dalam BAP Kasus Angeline

Arnoldus Dhae    •    Kamis, 23 Jul 2015 16:47 WIB
penemuan jenazah angeline
Banyak Kesaksian Kunci Tak Ada dalam BAP Kasus Angeline
Aksi simpatik untuk Angeline. Foto: Antara/Rosa Panggabean

Metrotvnews.com, Denpasar: Tim advokasi dari Pusat Pelayanan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Siti Sapurah, mempertanyakan mengapa banyak kesaksian dari saksi yang diminta untuk diubah.

Salah satunya adalah kesaksian dari Dewa Raka, anggota satuan pengamanan (satpam) yang disewa Margriet sejak 4 Juni. Siti yakin Dewa Raka salah seorang yang paling berjasa dalam penemuan jenazah Angeline.

"Setelah Margriet menutup akses toilet, Dewa Raka menerobos ke belakang rumah untuk mencari tempat buang air. Saat itu, dia melihat Margriet menginjak-injak tanah galian yang diketahui adalah kubur Angeline," kata Siti, saat datang bersama sejumlah aktivis dari Jaringan Peduli Anak, untuk berdialog dengan jajaran Kejaksaan Tinggi Bali, Kamis (23/7/2015).

Bukan hanya itu, dalam kesaksiannya, Dewa Raka melihat Margriet sedang mengendus-endus bau amis sehingga bekas galian itu ditutup lebih rapat lagi dengan cara menginjak-injaknya.

Namun sayangnya, hasil kesaksian itu tidak ada dalam berita acara pemeriksaan (BAP) dan Dewa Raka diperintahkan untuk mencabut kesaksiannya.

Saksi lain yang juga ada dalam BAP adalah keterangan dari Rohana. Rohana sudah diambil keterangannya tetapi tidak masuk dalam BAP.

Keterangan Handono juga bernasib sama. Ada beberapa oknum yang mengaku dari kepolisian yang meminta Handono untuk mencabut keterangannya.

Kepada jaksa, Ipung juga sempat melihat datang satu mobil sewaan ke rumah Margriet pada 25 Juni. Mobil tersebut dipakai untuk memuat tiga koper berukuran besar dengan alasan pindah.

Namun, setelah dicegah polisi dengan alasan masih dilakukan penyidikan, akhirnya koper itu batal diangkut. "Kita sudah menyampaikan hal tersebut, namun sopir mobil dan saksi yang melihat kejadian itu belum diperiksa hingga saat ini," katanya.

Asisten Tindak Pidana Umum (Aspidum) Holopan Nainggolan mengaku akan menampung masukan Siti Sapurah itu. "Ini sebagai bahan masukan, tapi sayangnya informasi ini tak ada dalam berkas pemeriksaan," ujarnya.

"Namun berbagai informasi tersebut tidak ada dalam berkas pemeriksaan. Makanya kami hanya bisa mendengarkan informasi ini sebagai bahan masukan saja," ujarnya.

Sebelumnya, Kejati Bali mengembalikan berkas kasus pembunuhan Angeline kepada penyidik Polda Bali. Alasannya, berkas itu banyak yang kurang, terutama dari motif pembunuhan yang dilakukan Margriet.

Angeline dinyatakan hilang oleh ibu angkatnya Margriet pada 16 Mei sekitar pukul 15.00 Wita. Namun, Angeline kemudian ditemukan tewas terkubur di halaman belakang rumahnya di Jalan Sedap Malam 26, Sanur, Denpasar Timur, pada 10 Juni.‬

Polda Bali kemudian menetapkan ibu angkat Angeline, Margriet Megawe, dan pembantu rumah Agustinus Tae, sebagai tersangka. Selain tersangka pembunuhan, Margriet juga menjadi tersangka penelantaran anak.


(UWA)