Menristek Dikti Akui Perjokian Sering Terjadi Saat SMBPTN

Husen Miftahudin    •    Minggu, 26 Jul 2015 14:32 WIB
joki ujian
Menristek Dikti Akui Perjokian Sering Terjadi Saat SMBPTN
Menristek Dikti M Nasir bersama pengawas dan panitia seleksi ujian mandiri Undip--Foto: MTVN/Husen Miftahudin

Metrotvnews.com, Jakarta: Siapa yang tak mau mengenyam bangku perkuliahan di Perguruan Tinggi Negeri (PTN). Nama besar PTN menjadi incaran para calon mahasiswa lantaran mudah mendapatkan pekerjaan usai lulus nanti. Sayangnya, hal ini dimanfaatkan oleh para calon mahasiswa yang enggan melakukan usaha maksimal demi mendapatkan bangku di salah satu PTN Indonesia, yakni menggunakan jasa perjokian.

Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti), Muhammad Nasir mengakui, masalah kecurangan saat seleksi masuk PTN dengan menggunakan joki selalu terjadi saat Seleksi Masuk Bersama Perguruan Tinggi Negeri (SMBPTN). Menurut dia, seleksi bersama secara nasional ini membuat panitia sering keteteran dalam memverifikasi data peserta ujian.

"Yang selalu ada perjokian adalah saat seleksi yang dilakukan bersama secara nasional seperti SMBPTN. SMBPTN tahun ini yang ada perjokian terjadi di Solo dan Makassar," aku Nasir saat mengunjungi Seleksi Penerimaan Mahasi Baru jalur mandiri Universitas Diponegoro (Undip) di SMKN 29, Jalan Prof Joko Sutono SH No 1, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Minggu (26/7/2015).

Mendapat informasi tersebut, pihaknya langsung segera melakukan tindakan dengan memverifikasi data peserta tes. Alhasil, sang joki pun tertangkap tangan sedang mengerjakan ujian milik peserta uji tes yang menggunakan jasa joki tersebut.

Tindakan yang mencoreng dunia pendidikan itu membuat muka Menristek Nasir memerah. Dengan tegas, pihak Kemenristek Dikti bekerjasama dengan universitas tersebut langsung mengeluarkan peserta tes yang terbukti menggunakan jasa joki.

"Itu terbukti dan kami keluarkan mahasiswa itu. Sang joki sendiri ternyata bukan mahasiswa dari perguruan tinggi tersebut, melainkan mahasiswa (dari perguruan tinggi) lain yang melakukan (perjokian) di Makassar. Ini yang terjadi," paparnya.

Untuk menghindari kejadian serupa terulang kembali, pihak Kemenristek Dikti menginstruksikan kepada para pengawas dan panitia untuk terlebih dahulu memverifikasi data peserta sebelum dilaksanakannya ujian seleksi. Dikatakannya, melalui sidak, dia yakin perjokian yang terjadi saat seleksi ujian masuk PTN menjadi semakin berkurang.

"Saya juga melakukan sidak. Tujuannya, untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia," tutup Nasir.


(MBM)

ICW: Nama Hilang di Dakwaan Setnov Karena KPK Hati-hati

ICW: Nama Hilang di Dakwaan Setnov Karena KPK Hati-hati

6 hours Ago

Peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW) berpendapat hilangnya sejumlah nama politisi yang seb…

BERITA LAINNYA