Enam Orang Tewas dalam Ledakan Dahsyat di Hotel Somalia

Willy Haryono    •    Senin, 27 Jul 2015 09:44 WIB
konflik somalia
Enam Orang Tewas dalam Ledakan Dahsyat di Hotel Somalia
Hotel Jazeera Palace di Mogadishu, Somalia, Minggu (26/7/2015), yang hancur terkena ledakan bom bunuh diri militan Shebab. (Foto: AFP / ABDIFITAH HASHI NOR)

Metrotvnews.com, Mogadishu: Grup militan Shebab menewaskan sedikitnya enam orang lewat ledakan bom mobil di sebuah hotel berpenjagaan ketat di Mogadishu, Somalia, Minggu (26/7/2015). 

Bom bunuh diri ini, yang merupakan bagian dari serangkaian serangan serupa di Somalia, terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama meninggalkan Kenya dan bertolak menuju Ethiopia. 

Dalam pernyataan yang dikutip sejumlah situs ekstremis, Shebab mengonfirmasi menyerang hotel Jazeera Palace, yang juga merupakan lokasi berdirinya gedung misi diplomatik Tiongkok, Qatar dan Uni Emirat Arab. 

"Kami melihat ada sekitar enam orang yang tewas, sebagian besar dari mereka penjaga hotel," ucap seorang pejabat keamanan pemerintah, Mohamed Jama, yang khawatir jumlah korban tewas dapat bertambah. 

Shebab menegaskan serangan bunuh diri ini merupakan "balasan atas pembunuhan puluhan warga tak berdosa" yang tewas dalam serangan pasukan Ethiopia terhadap markas Shebab di selatan Somalia. 

Warga setempat yang juga merupakan analis politik, Abdihakim Ainte, mengaku mendengar "suara ledakan dahsyat" yang menghancurkan jendela rumahnya. 

Menurut laporan reporter AFP, hotel Jazeera Palace dengan enam lantai itu hancur berantakan. Ledakan juga menimbulkan asap tebal yang membumbung tinggi ke angkasa. 

Jurnalis Mohamed Abdikarim, yang bekerja untuk saluran televisi Universal TV, berada di antara korban tewas. 

Jazeera Palace berlokasi dekat bandara internasional Somalia, yang juga merupakan lokasi kantor cabang PBB, misi diplomatik beberapa negara Barat dan AMISOM -- pasukan AU di Somalia. Hotel ini telah menjadi target Shebab di masa lalu, termasuk pada 2012 saat pelaku bom bunuh diri masuk ke area hotel saat Presiden Hassan Sheikh Mohamud berada di dalamnya. 



(WIL)