Roadmap Pengembangan BBN Biodiesel Harus Jelas

Ade Hapsari Lestarini    •    Senin, 27 Jul 2015 13:44 WIB
biofuel
<i>Roadmap</i> Pengembangan BBN Biodiesel Harus Jelas
Ilustrasi (ANTARA FOTO/Wahdi Septiawan)

Metrotvnews.com, Jakarta: Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) yang digawangi pemerintah akan terus mengembangkan Bahan Bakar Nabati (BBN) untuk mengurangi ketergantungan akan bahan bakar dari fosil.

Mantan Dirjen Energi Terbarukan Kardaya mengakui tidak mudah untuk mengembangkan energi dengan menggunakan BBN karena pemerintah harus mempunyai roadmap yang jelas mengenai langkah yang akan diambilnya.

"Roadmap menjadi sangat penting sebagai pegangan semua pihak dalam menjalankan pengembangan energi selain BBM. Dalam Roadmap itu harus dijelaskan mengenai kesamaan pendangan antara pemerintah dengan stakeholder, antara Pertamina dengan BPBD Sawit. Jadi siapa melakukan apa akan sangat jelas," tegas Kardaya, kepada wartawan, di Jakarta, Senin (27/7/2015).

Menurut Kardaya, pemerintah harus melakukan terobosan karena jika tidak dan masih terus mengandalkan ketergantungan BBM dari fosil maka akan sangat lama sekali bisa memenuhi kebutuhan energi di dalam negeri. Terobosan tersebut misalnya dengan memberikan kebijakan yang bisa menarik minat investor untuk menanamkan modalnya dibidang energi di Indonesia.

Indonesia sebagai negara yang kaya akan potensi energi bio memiliki potensi yang sangat besar jika dikembangkan dengan sangat serius oleh pemerintah dan BPBD.

"Banyak potensi energi bio yang bisa dikembangkan pemerintah selain dari sawit misalnya dari aren yang bisa menghasilkan etanol. Indonesia mempunyai produksi yang sangat besar baik dari sawit atau dari aren," tambah Kardaya.

Upaya untuk membangun energi nasional, dikatakan Kardaya, membutuhkan kebijakan yang konsisten dari pemerintah dan dikiuti secara kositen pula dalam implementasinya. "Jangan sampai kebijakan yang baru dijalankan ini ditengah-tengahnya berubah karena adanya faktor harga minyak dunia yang berubah pula," tegasnya.

Penggunaan energi bio merupakan BBN yang paling realistis untuk dikembangkan di Indonesia saat ini. Pasokan bahan bakunya sangat berlimpah. Ini seharusnya menjadi keuntungan kompetitif bagi Indonesia dan akan menjadi pertanyaan besar jika keuntungan kompetitif ini justru disia-siakan dengan berbagai dalih.

Sawit di Indonesia seperti halnya tebu di Brasil atau minyak di Timur Tengah. Karena itu, tidak masuk akal jika pengembangan BBN biodiesel berbasis sawit justru tertunda-tunda. Pada saat awal memang diperlukan sokongan kebijakan dan dana agar bisa bersaing dengan BBM fosil.

Sebelumnya, Direktur Utama Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) Sawit Bayu Krisnamurthi mengatakan, lembaga yang dipimpinnya akan memberikan subsidi sebesar Rp600-Rp700 per liter untuk pengembangan biodiesel nasional.

"Kita sudah menyepakati ketentuan support biodiesel. Badan ini akan memberikan support Rp600-Rp700 per liter, ini adalah on top dari Rp 1.000 subsidi pemerintah terhadap solar yang sudah ditetapkan dalam APBN," katanya dalam keterangan persnya.

PT Pertamina (Persero) juga diminta untuk menggunakan bahan bakar jenis campuran sawit ini. Dengan adanya dana 'celengan' sawit ini, diharapkan Pertamina menggunakan B15 (biodiesel 15 persen).

"Ada selisih harga biodiesel dengan MOPS (Mean of Platts Singapore). Dengan adanya sistem ini menyelesaikan selisih harga tersebut, jadi tidak ada alasan bagi Pertamina untuk tidak gunakan B15," kata Bayu.

Dia menambahkan, subsidi yang diberikan melalui BPDP ini akan dialokasikan kepada produsen seperti Pertamina sehingga nantinya harga jual menjadi lebih murah.

"Subsidi Rp 1.000 akan diberikan kepada konsumen, prinsip support-nya pada konsumen tapi mekanismenya itu Rp1.000 diberikan pada produsen BBM-nya, itu fix (tetap) di APBN, yang Rp600-Rp700 itu bergerak sesuai harga pasar, diberikan kepada produsen bahan bakunya, jadi konsumen secara tidak langsung akan diberikan subsidi Rp1.600-Rp1.700 per liter," ujar Bayu.


(ABD)

KPK Hormati Putusan Sela Praperadilan Novanto

KPK Hormati Putusan Sela Praperadilan Novanto

23 hours Ago

KPK akan tetap menghadapi proses persidangan selanjutnya yang masuk dalam tahap pembuktian.

BERITA LAINNYA