Pilkada Surabaya 2015

Dualisme Dukungan, Golkar di Surabaya Terancam Absen di Pilkada

Amaluddin    •    Senin, 27 Jul 2015 20:34 WIB
pilkada serentak
Dualisme Dukungan, Golkar di Surabaya Terancam Absen di Pilkada
Calon petahana Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini (kedua dari kanan) saat mendaftarkan diri sebagai calon kepala daerah ke KPU untuk mengikuti pilkada Kota Surabaya. Foto: MTVN/Amaluddin

Metrotvnews.com, Surabaya: Partai Golkar terancam tidak dapat menyodorkan `jago` dalam pemilihan wali Kota Surabaya. Pasalnya, dua kubu di tubuh partai berlambang pohon beringin tidak seiya-sekata perihal calon yang akan mereka dukung.

Golkar kubu Agung Laksono dan Golkar kubu Aburizal Bakrie masing-masing memiliki gacoan sendiri. DPD Golkar Surabaya kubu Agung melimpahkan dukungan kepada pasangan Tri Rismaharini-Wisnu Sakti Buana (Risma-Wisnu) yang diusung PDI Perjuangan.

Sedangkan DPD Partai Golkar Surabaya kubu Aburizal Bakrie memilih bergabung di Koalisi Majapahit bersama Partai Gerindra, Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), Partai Amanat Nasional (PAN), Partai Keadilan Sejahtera (PKS), dan Partai Demokrat.

Menanggapi perihal tersebut, Komisi Pemilihan Umum (KPU) Surabaya menegaskan akan menolak jika Partai Golkar memberikan dukungan resmi kepada dua pasangan calon wali kota dan wakil wali kota yang berbeda.

Menurut Anggota Bidang Hukum, Pengawasan, dan SDM, KPU Kota Surabaya, Purnomo Satriyo Pringgodigdo, dua kubu yang bersengketa, dalam Peraturan KPU Nomor 12 Tahun 2015 tentang Pencalonan Kepala Daerah, khususnya Pasal 36 dan 42A, diberi hak yang sama untuk mencalonkan dan memberi dukungan politik, selama ditujukan terhadap calon yang sama.

"Jika mendukung dua pasangan yang berbeda, bisa dikatakan melanggar peraturan KPU," kata Purnomo saat dihubungi di Surabaya, Senin (27/7/2015).

Sedangkan untuk pasangan calon yang diusung, kata dia, akan tetap didaftar, selama kuota dukungannya sesuai dengan apa yang telah ditetapkan.

Dalam pilwali Surabaya, lanjutnya, pasangan calon didukung oleh partai politik atau gabungan partai politik dengan total minimal 10 kursi di DPRD Kota Surabaya. 
"Partai dianggap tidak mendukung pasangan calon jika memilih dua pasangan calon yang berbeda. Intinya harus kompak dalam memberikan dukungan kepada calon yang akan diusungnya," jelas Purnomo.

Hingga hari kedua pendaftaran pasangan calon, Senin (27/7/2015), Koalisi Majapahit belum juga memunculkan nama pasangan untuk bersaing melawan pasangan Tri Rismaharini-Wisnu Sakti Buana.



(UWA)