Fahri Hamzah: Saya akan Bongkar Modus KPK

- 09 Mei 2013 15:47 wib
MI/M Irfan/rj
MI/M Irfan/rj

Metrotvnews.com, Jakarta: Politikus senior Partai Keadilan Sejahtera Fahri Hamzah menuding Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mempolitisasi partainya.

Pembongkaran hubungan Ahmad Fathanah dengan sejumlah wanita tak lebih hanya permainan sensasi.

"Lihat saja kenapa Fathanah yang orang swasta dikaitkan dengan PKS sampai pacar-pacarnya  pun diungkap? Pemberian yang nilainya hanya jutaan diungkap? Mereka hanya  cari sensasi. Memangnya cuma Fathanah yang memberikan barang-barang seperti itu? Memangnya Nazaruddin atau yang lain tidak?" kata Fahri ketika dihubungi, Kamis (9/5).

Menurut Fahri, KPK tengah melempar bola liar. Lembaga antirasuah itu bukan lagi menjadi institusi hukum yang bisa dipegang. Dari 85 ribu kasus yang ada, KPK hanya mampu menuntaskan 100-150 kasus. Itu pun bukan angka yang valid karena itu jumlah berkas atau orang yang dipidanakan.

”Kalau kasusnya paling banyak lima saja. Mana sisanya? Kasus yang besar-besar seperti Century sampai saat ini tidak bisa selesai," sindir Fahri.

Fahri menyebut perlakuan berbeda KPK terhadap kasus lain yang jelas sudah terbukti di persidangan tapi tidak ditindaklanjuti. Sebut saja kasus Kemenakertrans, Tanjung Api-Api, impor kereta api, Hambalang, hingga Century.

"Kasus di Kemenakertrans juga tertangkap tangan dan ada orang dekat menteri yang juga tertangkap tangan dan terungkap dalam rekaman. Tapi sampai sekarang jalan di tempat. Orang dekat menterinya tidak ditahan seperti halnya Ahmad Fathanah yang bahkan hanya seorang calo seperti pengakuannya sendiri," ujar Fahri.

Fahri juga menegaskan saat ini pihaknya sudah mempelajari modus kerja KPK dalam menangani perkara. Ia berjanji akan membongkarnya.

"Tunggu saja, saya sudah memelajari semua modus permainan KPK. Pada saatnya nanti akan saya bongkar semua," pungkasnya.

()

ANT/M Agung Rajasa

DPW masih Tunggu Jawaban DPP PPP

17 April 2014 22:50 wib

SURAT yang ditujukan bagi Suryadharma tidak sedikitpun mengindikasikan gerakan makar.