Warga Pondok Rangon Depok Keluhkan Limbah Sampah

Kisar Rajaguguk    •    Kamis, 30 Jul 2015 18:12 WIB
sampah
Warga Pondok Rangon Depok Keluhkan Limbah Sampah
Tumpukan sampah memenuhi bahu Jalan Raya Citayam, Depok, Jawa Barat, Sabtu (20/6/2015). Foto: Indrianto Eko Suwarso/Antara

Metrotvnews.com, Jakarta: Warga Jalan TPU Pondok Rangon, Kelurahan Harjamukti, Kecamatan Cimanggis, Kota Depok, mengeluhkan bau busuk dan anyir yang meruap dari tempat pembuangan sampah (TPS). Warga terganggu bau anyir yang berasal dari sampah yang berumpuk di tanah kosong.

Mista, 36, mengatakan kondisi sampah berwarna gelap. Bahkan sudah mengeluarkan air pekat karena lama tak diangkut. Ditambah dengan pengendapan akibat sampah rumah tangga membuat badan jalan meresahkan warga.

"Baunya menusuk. Beberapa warga mengalami gatal-gatal akibat kontak langsung dengan limbah sampah," keluhnya, Kamis (30/7/2015).

Warga RT 002 RW 06 Kelurahan Harjamukti itu mengaku, tumpukan sampah di tanah kosong sudah sejak lama terjadi. "Masalah limbah bukan cuma karena sampah. Tapi juga banyaknya tali air yang menyebabkan saluran tersumbat," tambahnya.

Ia menambahkan, daerah tersebut tidak dinilai tim penilai Adipura yang diselenggarakan Kementerian Negara Lingkungan Hidup (KLH) dan Kehutanan RI tahun 2015. "Andaikan tim penilai Adipura menilai seluruh jalan-jalan pihak terkait pasti membersihkan sampah di tanah kosong tersebut," ungkapnya.

Selain warga Harjamukti, warga perumahan Griya Melati Emas (GME) di RW 8 Jatimulya, Kecamatan Cipayung, Kota Depok juga merasa terganggu dengan bau yang berasal dari tanah kosong di RT 002 RW 03. Tanah kosong itu tadinya merupakan tempat usaha barang bekas.

"Setelah ditinggal pengontraknya, limbah barang bekas yang tertinggal menyebarkan aroma tidak sedap di wilayah tersebut karena tidak dibersihkan," ujar Uni, 43 salah seorang warga.

Ketua RT 1 RW 3, Nasir AS, mengaku warga perumahan GME merasa terganggu dengan bau limbah sampah tersebut. Sebelumnya, penyewa lahan sudah pernah ditegur agar membersihkan lahan tersebut setelah selesai masa kontraknya, namun teguran tersebut tidak ditanggapi.

Si pengontrak malah meninggalkan limbah bau dan membakarnya sehingga pepohonan di sekitarnya mati. “Habis kontrak 25 Juni lalu, pemilik lahan tidak mengetahui lahannya dipakai untuk tumpukan barang bekas,” terang Nasir.

Lurah Jatimulya, Pairin, mengatakan lahan yang dijadikan tempat usaha barang bekas merupakan tanah yang disewa oleh pengusaha barang bekas tersebut. Setelah waktu kontrak habis, limbahnya tidak dibersihkan sehingga meninggalkan limbah sampah yang membuat warga perumahan GME di RW 08 terganggu dengan baunya.

Hal tersebut diperparah dengan oknum warga yang ikut-ikutan membuang sampah di lahan tersebut. Belum lagi jika hujan turun, bau akan tambah menyebar. “Ini sudah jadi tempat pembuangan liar. Saya akan cari penyewa tanah ini dan meminta untuk dibersihkan kembali,” katanya. 



(KRI)