Bangun Transmisi 46.000 KM, Pemerintah Butuh Rp250 Triliun

Husen Miftahudin    •    Kamis, 30 Jul 2015 18:45 WIB
listrik
Bangun Transmisi 46.000 KM, Pemerintah Butuh Rp250 Triliun
Direktur Utama PLN Sofyan Basir (kemeja putih) (Foto: MTVN/Husen Miftahudin)

Metrotvnews.com, Jakarta: Pemerintah menunjuk PT PLN (Persero) membangun transmisi sepanjang 46 ribu kilometer (km) untuk penyaluran listrik hingga ke seluruh penjuru Indonesia selama lima tahun. Ditaksir, dana yang dibutuhkan PLN untuk membangun transmisi listrik tersebut sebanyak Rp200 triliun hingga Rp250 triliun.

"Totalnya itu untuk gardu induk, untuk tower dan konstruksinya sekitar Rp200 triliun-Rp250 triliun dalam pembangunan lima tahun. Dananya sebagian sudah disiapkan dari JICA dan lainnya yang sudah berbentuk plafon (pinjaman)," ujar Direktur Utama PLN Sofyan Basir, ditemui di Kantor Wakil Presiden, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Kamis (30/7/2015).

Ia melanjutkan, dana pembangunan transmisi listrik itu juga berasal dari bank lokal dan dana PLN itu sendiri melalui Penyertaan Modal Negara (PMN). "PMN itu Rp8 triliun, sisanya multirateral dan lokal," papar Sofyan.

Sementara itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said mengungkapkan bahwa pembangunan transmisi listrik ini akan menumbuhkan industri lokal. Pasalnya, PLN akan menyertakan industri baja dan kontraktor daerah untuk ikut berpartisipasi dalam pembangunan transmisi listrik.

"Itu kalau dijadikan stimulus pertumbuhan ekonomi luar biasa besarnya, makanya kontrak akan dibagi tiga. PLN akan mencari produsen baja yang paling besar, tentu Krakatau Steel plus industri yang lain-lain. Itu PLN beli baja, baja kemudian dipindahkan ke pabrikator yang akan memotong baja, setelah itu PLN kontrak lagi kepada perusahaan perakit dan konstruksi," paparnya.

Sudirman menjelaskan, pembangunan transmisi akan meibatkan pihak swasta dan perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN), baik sebagai penyedia baja, penyedia jasa pabrikasi hingga penyedia konstruksi. Pembangunan transmisi untuk membangun kapasitas industri nasional karena melibatkan industri dan kontraktor dalam negeri.

"Ini betul-betul sebagai stimulus untuk membangun kapasitas nasional. Karena hampir seluruh komponen transmisi itu bisa dikerjakan di Indonesia, paling beberapa item kecil (yang diimpor)," pungkas Sudirman.


(ABD)