Buang Jauh-jauh Seragam Dinas, Menteri Gobel Wajibkan Pegawainya Gunakan Batik Endek

M Rodhi Aulia    •    Jumat, 31 Jul 2015 00:03 WIB
kabinet kerja
Buang Jauh-jauh Seragam Dinas, Menteri Gobel Wajibkan Pegawainya Gunakan Batik Endek
Menteri Perdagangan Rahmat Gobel. Foto:Antara/Fenny Selly.

Metrotvnews.com, Jakarta: Indonesia patut berbangga setelah batik ditetapkan UNESCO sebagai warisan budaya dunia. Namun kebanggaan itu tidak hanya sekadar mengaku cinta batik, harus ada tindakan nyata membuktikan kecintaan tersebut.

"Bukan hanya cintai produk Indonesia, tapi action," kata Gobel dalam diskusi batik di Auditorium Utama, Kantor Kementerian Perdagangan, Jalan Ridwan Rais, Jakarta Pusat, Kamis (30/7/2015).

Gobel mencontohkan, dirinya mewajibkan seluruh pegawai dan jajarannya mengenakan kain asli Indonesia sebagai pakaian dinas. Kain yang dimaksud jenis endek. Dengan demikian, ia akan membuang jauh-jauh seragam yang selama ini dikenakannya dan pegawainya.

"Hari ini Kementerian Perdagangan, kita jangan pakai lagi abu-abu. Sekarang pakai endek. Pakaian resmi dan celana abu-abu. Tahun depan, kita pakai lurik," ungkap Gobel sambil memamerkan model endek yang ia dan pegawainya gunakan.

Menurut ia, Kemendag harus menjadi promotor. Agar masyarakat Indonesia juga senang dan bersemangat mengenakan kain asli Indonesia tersebut. Yang di antaranya batik, endek, lurik atau jenis kain songket dan tenun lainnya.

"Kalau tidak dimulai oleh pemerintah, masyarakat juga tidak akan semangat. Kita akan promosikan sebagai seragam kantor. Semangat ini kita bangun dari kantor kami. Jamu juga kita budayakan. Di ruangan ini, ada jamu corner. Kita berharap setiap kementerian ikut. Pemerintah harus jadi teladan," harap Gobel.

Di samping itu, Gobel juga telah menerbitkan Permendag Nomor 53 Tahun 2015 tentang Ketentuan Impor Tekstil dan Produk Tekstil Batik dan Motif Batik. Permendag yang akan efektif tiga bulan ke depan ini dimaksudkan untuk membatasi importasi batik dari luar negeri.

"Setelah batik ditetapkan sebagai warisan budaya Indonesia oleh UNESCO, Indonesia justru diserbu batik impor. Bahkan tahun ini, periode Januari hingga April 2015, sudah naik (impornya) sekitar 24,1 persen dari tahun lalu atau hampir USD35 juta," terang Gobel.

Pembatasan ini sengaja ia lakukan, agar budaya Indonesia memang terjaga dengan baik. Banyak item yang diperhatikan di sini. Di antaranya adalah potensi terserap tenaga kerja yang lebih banyak, terjaganya nilai intelektualitas dalam proses membatik dan menumbuhkan semangat nasionalisme penerus bangsa.

"Ini menjaga dan membangun optimisme agar pengerajin kita berkarya. Ini ada intelektualitas kita. Ini impelementasi program trisakti," ungkap dia.


(DRI)