Semester I-2015

BII Catat LDR di 89,71%

Angga Bratadharma    •    Jumat, 31 Jul 2015 14:08 WIB
bii
BII Catat LDR di 89,71%
Ilustrasi (FOTO ANTARA/Audy Alwi/ama)

Metrotvnews.com, Jakarta: PT Bank Internasional Indonesia Tbk (BNII) mencatat rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) sebesar 89,71 persen sampai dengan semester I-2015. Sementara LDR konsolidasian modifikasi BII yaitu Loan to Funding Ratio (LFR) berada di level 83,77 persen.

"Kami terus mencermati kondisi pasar yang penuh tantangan di sepanjang 2015 serta lebih selektif dalam meningkatkan portofolio (bisnis) BII dengan menjalankan disiplin ketat pada pricing baik pinjaman maupun likuiditas serta secara intensif melakukan perbaikan produktivitas," kata Presiden Direktur BII Taswin Zakaria, dalam keterangan tertulisnya, di Jakarta, Jumat (31/7/2015).
 
Tingkat LDR dan LFR yang berada dalam kondisi aman ini mengindikasikan bahwa masih besarnya ruang gerak BII untuk menyalurkan kreditnya. Dengan kata lain, perolehan Dana Pihak Ketiga (DPK) lebih besar daripada kinerja penyaluran kreditnya atau dana yang didapatkan baik dari penerbitan obligasi dan lain-lain masih banyak yang belum terpakai.

BII mencatat simpanan nasabah menunjukkan pertumbuhan sebanyak 1,1 persen pada semester I-2015 yakni dari Rp105,9 triliun per 30 Juni 2014 menjadi Rp107,1 triliun per 30 Juni 2015. Hal ini disebabkan BII mengurangi ketergantungannya pada deposito berjangka dan memperbaiki deposit mix dengan meningkatkan CASA. 

"BII secara disiplin melakukan kontrol pada likuiditas volume dan pricing, sementara terus menjalankan inisiatif CASA di seluruh unit bisnis," jelas Taswin.
 
Sementara itu, BII juga mencatat Pendapatan Bunga Bersih (Net Interest Income/NII) meningkat sebanyak 10,9 persen dari Rp2,8 triliun pada Juni 2014 menjadi Rp3,1 triliun pada Juni 2015 karena marjin bunga bersih (NIM) BII naik menjadi 4,73 persen dari 4,48 persen.
 
Namun demikian, Taswin tidak menampik kondisi ekonomi domestik yang penuh tantangan menyebabkan Non Performing Loan (NPL) BII naik menjadi 3,48 persen secara gross) dan 2,35 persen secara net. BII terus berhati-hati dengan kualitas kredit ini, sejalan dengan adanya ketidakpastian ekonomi.

"Sebagai tindakan antisipatif terhadap kondisi ekonomi saat ini dan memastikan praktek prudent banking, BII telah membukukan biaya provisi sebesar Rp952 miliar pada Juni 2015 dibandingkan Rp703 miliar pada Juni 2014," pungkasnya.


(ABD)