Rupiah Melemah, Menkeu: Kondisi Berbeda dengan Krisis 1998

Suci Sedya Utami    •    Jumat, 31 Jul 2015 15:23 WIB
rupiah melemah
Rupiah Melemah, Menkeu: Kondisi Berbeda dengan Krisis 1998
Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro (ANTARA FOTO/Zabur Karuru)

Metrotvnews.com, Jakarta: Nilai tukar rupiah terus tergerus oleh penguatan dolar Amerika Serikat (USD) yang dari waktu ke waktu kian perkasa. Bahkan, rupiah hampir menembus Rp13.500 per USD. Namun demikian, diyakini Indonesia tidak akan mengalami krisis seperti krisis yang terjadi di 1998.

Keyakinan tersebut seperti diungkapkan Menteri Keuangan (Menkeu) Bambang Brodjonegoro, menanggapi pertanyaan sejumlah awak media soal pelemahan nilai tukar rupiah yang terus terjadi. "Ini sangat beda sekali. Kalian lihat kondisi fundamentalnya saja. Tidak ada indikasi akan krisis," tegas Bambang, di kantornya, Jalan Lapangan Banteng, Jakarta, Jumat (31/7/2015).

Bambang menjelaskan, mata uang negeri Paman Sam itu mengalami penguatan terhadap banyak mata uang negara lain di dunia. Artinya, rupiah tidak jatuh sendiri terhadap penguatan USD sekarang ini. Negara lain seperti Brasil, Turki, dan India, juga tengah mengalami depresiasi pada mata uangnya.

Hal ini tentu berbeda dengan kondisi di 1998, di mana hanya nilai tukar rupiah yang mengalami pelemahan terhadap USD. Dengan kata lain, saat itu hanya Indonesia yang mengalami persoalan sehingga hal itu yang membuat Indonesia mengalami krisis.

"Karena kondisi suatu mata uang melemah sendirian, masalahnya ada di dia (negara tersebut). Artinya, sekarang ini masalahnya penguatan USD terhadap (mata uang negara) semuanya. Maka, rupiah melemah ya otomatis," kata Bambang.

Bambang memastikan tekanan terhadap nilai tukar rupiah tidak membuat Indonesia mengalami krisis seperti krisis yang terjadi di 1998. Gejolak terhadap rupiah masih dalam kondisi aman dan terkendali serta belum ada indikasi akan terjadinya krisis.

Dirinya meminta agar masyarakat tenang terhadap pelemahan nilai tukar rupiah terhadap USD. Hal ini menjadi penting mengingat tingkat inflasi di Tanah Air dalam kondisi terukur, dalam artian berada di level rendah.

"Kalau dulu inflasi luar biasa. Ketika rupiah melemah tajam, inflasi luar biasa di 1998. Waktu itu rupiah melemah, pertumbuhan ekonomi negatif sampai minus 14 persen. Kalau sekarang  pertumbuhan aman meski melambat. Bahwa ada perlambatan, iya, tetapi positifnya terhadap negatif sangat berkaitan satu sama lain," pungkas dia.


(ABD)