Ironi Sepak Bola

Suryopratomo    •    Senin, 03 Aug 2015 15:24 WIB
sepak bola
Ironi Sepak Bola
Pemain AS Roma (Foto: Istimewa)

Pekan lalu di Sport Fox saya menyaksikan pertandingan sepak bola antara Guangzhou Evergrande Taobao melawan Bayern Muenchen. Juara Liga Jerman sedang melakukan tur musim panas dan mereka memenuhi undangan klub-klub di Tiongkok untuk bermain di sana.

Bayern yang penuh dengan bintang yang membawa Jerman menjadi juara dunia 2014, ternyata tidak mampu menaklukkan Guangzhou. Hingga 90 menit pertandingan berakhir mereka harus puas dengan hasil imbang 0-0.

Untuk menentukan pemenangnya dilakukan adu tendangan penalti. Kegagalan Thomas Mueller mengeksekusi penalti membuat Bayern harus menyerah 5-4 kepada klub sepak bola Tiongkok.

Kita tentu kaget raksasa sepak bola Eropa tidak mampu menang dari klub Asia. Ketika melihat ke bangku cadangan, maka kita akan lebih kaget. Klub Tiongkok itu ditangani mantan pelatih Brasil Luis Felipe Scolari. Dialah yang menjadi arsitek untuk meredam kehebatan tim asuhan Josep Guardiola.

Para pemain Guangzhou sama sekali tidak gentar untuk menghadapi para pemain Bayern. Scolari memang membawa serta pemain bintang dari Brasil seperti Paulinho dan Robinho untuk bermain di klub itu.

AS Roma

Sementara di Guangzhou pecinta sepak bola Tiongkok menyaksikan bintang sepak bola negara berlaga menghadapi para pemain kelas dunia, di Tanah Air kita hanya bisa menontonkan para pemain AS Roma, Italia "berlatih" di Stadion Utama Senayan. Para pemain Roma dibagi dua tim dan Romanisti menyaksikan tim kesayangannya berlatih.

Pertandingan semakin terasa sebagai "main-main" karena manajer tim yang ditunjuk adalah artis Indonesia. Tim Merah dimanajeri Jupe, sementara Tim Putih dipimpin Julie Estelle.

Tidak ada manfaat apa-apa yang bisa dipetik bagi persepakbolaaan Indonesia kecuali tontonan. Padahal tidaklah murah untuk mendatangkan Francesco Totti dan kawan-kawan ke Indonesia. Apalagi di tengah cekaknya pasokan dollar AS ke Indonesia sekarang ini.

Namun itulah harga yang harus dibayar Indonesia. Sanksi yang dijatuhkan FIFA membuat kita menjadi pariah di persepakbolaan internasional. Untuk memainkan pertandingan persahabatan saja dilarang oleh FIFA.

Padahal Roma datang ke Indonesia untuk melakukan eksibisi melawan Persija Jakarta. Namun setelah sanksi FIFA, semua anggotanya dilarang bermain dengan tim asal Indonesia. Roma yang takut terkena sanksi FIFA akhirnya hanya mau berlatih sendiri di Jakarta.

Sebuah ironi bagi negara yang masyarakatnya gila sepak bola. Olahraga yang paling digandrungi hanya bisa menjadi pertandingan "tarikan kampung" alias tarkam. Tidak ada lagi pertandingan bermutu yang bisa disaksikan langsung di Indonesia.

Langit dan Bumi

Dengan kondisi seperti ini jangan heran apabila sepak bola Indonesia dan Tiongkok seperti langit dan bumi. Sementara sepak bola Tiongkok  terus dipacu menjadi kelas dunia, sepak bola Indonesia justru menjadi "katak dalam tempurung".

Bagaimana sepak bola Tiongkok tidak akan bisa terbang tinggi kalau klub sekelas Guangzhou bisa mengontrak pelatih sekelas Scolari. Belum lagi pemain sekelas Paulinho dan Robinho yang pasti akan mentransfer ilmu bagi pemain-pemain Tiongkok.

Sementara kita paling tinggi ditangani pelatih yang mantan pemain Jacksen F. Thiago. Para pemain asing yang bisa dikontrak klub-klub Indonesia baru pemain dengan grade 3 atau 4.

Pemilik Persib Bandung Glen Sugita mengatakan, perjalanan sepak bola Indonesia masihlah panjang. Apabila ingin tampil di jenjang Asia saja, tantangannya sangatlah berat.

"Klub-klub di Indonesia baru bisa mengontrak pemain dengan nilai Rp1 miliar, sementara klub-klub Jepang, Tiongkok, Korea, Arab sudah mampu mengontrak pemain yang kelasnya Rp10 miliar. Dengan perbedaan yang begitu tinggi, pasti kualitasnya jauh berbeda," kata Glen.

Keadaan makin rumit karena Menteri Pemuda dan Olahraga serta Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia bukan duduk bersama mengejar ketertinggalan sepak bola Indonesia, tetapi justru berseteru. 
Bahkan perseteruannya semakin seperti anak kecil, karena menerapkan prinsip "pokoknya".

Sepanjang pemerintah dan PSSI sama-sama kepala batu, maka persepakbolaan Indonesia tidak akan ke mana-mana. Untuk memperbaiki kualitas pelatih dan wasit saja tidak mungkin dilakukan, karena Indonesia dikucilkan dari dunia internasional.

Kalau pun akan digelar turnamen Piala Kemerdekaan dan Piala Indonesia Satu itu bukan ajang pembinaan yang dibutuhkan. Kita hanya sekadar menghibur diri bahwa sepak bola Indonesia belum mati. 
Kenyataannya sepak bola Indonesia sedang MPP alias "mati pelan-pelan".

Sekarang ini yang sudah mati adalah mimpi anak-anak Indonesia untuk menjadi bintang sepak bola. Para pemain Indonesia dan pelatih serta wasit bahkan sudah kehilangan mata pencaharian. Hanya anak seperti Maturnis yang beruntung bisa direkrut Sporting Lisbon, Portugal.

Komisi Nasional Hak Asasi Manusia mencium adanya pelanggaran HAM yang dilakukan pemerintah. Pembekuan yang dilakukan Kemenpora membuat banyak orang kehilangan kesempatan kerja, sehingga kehidupan keluarganya terlantar.

Seharusnya Menpora dan PSSI mau duduk bersama. Kalau pun pemerintah tidak mau La Nyalla Mattalitti menjadi Ketua Umum PSSI harus jelas alasannya. Tidak bisa hanya karena La Nyalla dianggap sebagai donor penerbitan Tabloid "Obor Rakyat" yang mendiskreditkan Joko  Widodo dalam kampanye presiden, lalu pemerintah melarang La Nyalla menjadi Ketua Umum PSSI.

Janganlah urusan negara dibawa menjadi urusan pribadi. Kalau ada hambatan antara Jokowi, Imam Nahrawi, dan La Nyalla selesaikan saja secara pribadi. Jangan korbankan sepak bola Indonesia hanya untuk ego pribadi.


(RIZ)