Wall Street Terseret Pelemahan Harga Minyak

Ade Hapsari Lestarini    •    Selasa, 04 Aug 2015 08:13 WIB
wall street
Wall Street Terseret Pelemahan Harga Minyak
Ilustrasi aktivitas di bursa Wall Street -- FOTO: Reuters/Brendan McDermid

Metrotvnews.com, New York: Saham-saham berjatuhan terseret pelemahan harga minyak mentah berjangka yang merosot ke posisi terendah selama enam bulan. Pelemahan tersebut terjadi di tengah kekhawatiran permintaan setelah data pabrik dari Tiongkok dan Amerika Serikat (AS) mengecewakan.

Reuters melansir, Selasa (4/8/2015), harga minyak mentah Brent merosot ke level terendah sejak akhir Januari karena aktivitas pabrik di ekonomi terbesar kedua di dunia, Tiongkok, menyusut lebih dari perkiraan semula bulan lalu. Sementara itu, laju pertumbuhan di sektor manufaktur AS melambat pada Juli.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 91,66 poin atau 0,52 persen menjadi 17.598,2, indeks S & P 500 kehilangan 5,8 poin atau 0,28 persen ke 2.098,04, dan Nasdaq Composite melemah 12,90 poin atau 0,25 persen ke 5.115,38.

Adapun ukuran saham di pasar utama global, MSCI, turun 0,3 persen dan Nikkei futures NKc1 turun 0,6 persen menjelang perdagangan hari ini. Sedangkan Pan-Eropa FTSEurofirst 300 FTEU3 ditutup naik 0,7 persen.

Di sisi lain, Federal Reserve AS secara luas diperkirakan akan menaikkan suku bunga untuk pertama kalinya dalam hampir satu dekade sebelum akhir tahun. Jika kelemahan di Tiongkok telah merembes ke dalam ekonomi AS, the Fed bisa meninjau kembali rencananya untuk menaikkan suku bunga. Serta menyeimbangkan pasar dan memberikan dukungan lebih dari bank sentral terhadap pertumbuhan yang lebih lambat.

"Perlambatan di Tiongkok, yang menjadi perlambatan di Asia, dan pertanyaannya menjadi berapa banyak akan menggerogoti pasar AS?" kata analis strategi pasar di Prudential Financial di Newark, Quincy Krosby.

Sementara itu di Athena, saham .ATG jatuh 16,2 persen pada hari pertama perdagangan setelah ditutup lima minggu. Suspensi perdagangan merupakan bagian dari kontrol modal yang dikenakan untuk mencegah jatuhnya bank-bank Yunani yang akan memiliki kemungkinan mendorong negara keluar dari zona euro.


(AHL)