Industri Otomotif

Ninja 150 Discontinue, Kawasaki Arahkan Konsumen ke RR Mono

Ainto Harry Budiawan    •    Rabu, 05 Aug 2015 10:23 WIB
kawasaki
Ninja 150 <i>Discontinue</i>, Kawasaki Arahkan Konsumen ke RR Mono
Kawasaki Ninja 150 resmi stop produksi. KMI

Metrotvnews.com, Jakarta: Sepeda motor bermesin 2-tak terakhir yang masih eksis di Indonesia adalah Kawasaki Ninja 150. Motor ini dikenal dengan akselerasinya yang cepat, sayang standar emisi Euro3 yang diberlakukan pemerintah memaksa PT Kawasaki Motor Indonesia (KMI) menyuntik mati motor ini.

"Per akhir bulan kemarin,  kita stop produksi Ninja 150 series. Jadi yang saat ini masih ada di dealer, itu stok terakhir Ninja 150," kata Michael Chandra Tanadi, Assistant Deputy Head Sales and Promotion KMI, di sela-sela peluncuran D-Tracker.

KMI pun mengaku tidak ada pengganti yang spesifik sama-sama bermesin 150 cc hanya saja berjenis 4-tak. "Sebagai penggantinya, konsumen kita arahkan ke RR Mono, motor ini juga dikembangkan dari permintaan pengguna Ninja 150 yang mau motor dengan akselerasi spontan," sambungnya.

Memang dari segi harga RR Mono terpaut Rp6 jutaan lebih mahal ketimbang Ninja 150. Tapi dengan mesin 250 cc, silinder tunggal, injeksi DOHC, 4 klep motor ini dianggap pengganti yang cocok untuk Ninja 150.

"Cobain dulu deh RR Mono, sama kok akselerasinya, malah sasisnya lebih stabil untuk nikung," sambung pria ramah ini. Michael menambahkan saat ini sisa stok Ninja 150 untuk waktu dua bulan saja, atau sekitar 5.000 unit.

KMI tidak mengadakan promo khusus atau mengambil kesempatan dengan menaikkan harga untuk Ninja 150 yang tersisa. Pasalnya Ninja 150 memang jadi model andalan dengan penjualan rata-rata mendekati angka 5.000 unit tiap bulannya.

Mesin 2-tak Honda
Dilain pihak, Honda justru baru-baru ini mematenkan desain mesin 2-tak terbaru mereka dengan sistem injeksi yang diklaim ramah lingkungan. Tapi KMI menganggap itu bukan apa-apa, pasalnya harga jualnya akan melambung.

"Kalau jadi, begitu masuk kesini pasti harga motornya mahal. Ninja 150 kalau kita bikin Euro3 juga bisa, tapi harganya jadi tidak masuk. Bisa di atas harga Ninja 250 nanti, konsumen Indonesia mana mau," pungkas Michael.


(UDA)