Tiongkok Melambat, Komoditas Batu Bara Tiarap

Dian Ihsan Siregar    •    Selasa, 04 Aug 2015 11:01 WIB
batu bara
Tiongkok Melambat, Komoditas Batu Bara Tiarap
Ilustrasi -- ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari

Metrotvnews.com, Jakarta: Industri batu bara masih akan menjadi momok bagi para pengusaha di Indonesia akibat harga yang terus menurun dan melibas kinerja bisnis perusahaan tambang. Harga komoditas pun masih akan mengalami pelemahan seiring dengan melemahnya pertumbuhan ekonomi Tiongkok.

‎Chief Marke‎t Analyst ForexTime Ltd (FXTM) Jameel Ahmad menegaskan, pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang melambat memberikan tekanan besar bagi harga komoditas, seperti batu bara. Harga jadi melemah, bahkan tidak bisa diprediksi sampai kapan harga batu bara kembali membaik.

"Batu bara salah satu komoditas yang terkena dampak besar. Jadi karena harga batu bara kena, tekanan terus menerus terus mempengaruhi produksinya seperti di Sumatera. Perusahaan tambang tidak menghasilkan keuntungan, dan banyak yang tidak beroperasi kembali," ucap Jameel kepada Metrotvnews.com, Selasa (4/8/2015).

Menurut dia, ‎harga komoditas di Indonesia masih mengacu pada Negeri Tirai Bambu tersebut. Jikalau pertumbuhan ekonomi Tiongkok belum membaik, maka harga batu bara dan lainnya masih terus mengalami pelemahan.

"Pemerintah Tiongkok baru saja mengeluarkan data ekonomi, datanya tidak baik, maka akan memberikan tekanan yang paling besar lagi terhadap harga komoditas. Mungkin bisa di cek harga komoditas terkini mana saja yang mengalami pelemahan," tutur dia.

Harga batu bara, kata dia, masih sangat susah diprediksi untuk naik kembali karena batubara merupakan komoditas yang harganya mengalami tekanan paling besar akibat ekonomi Tiongkok yang kian melambat‎.

"Harga batu bara sangat susah diprediksi, seiring harga komoditas masih menunjukkan pelemahan. Paling tidak saat ini investor juga harus melihat dengan jelas pertumbuhan ekonomi Tiongkok selama enam bulan ke depan, agar bisa melihat tekanan harga komoditas. Ekonomi global yang melemah juga memberikan dampak negatif bagi harga batu bara, dan masih akan terus tertekan," tutur dia.

Sebelumnya, Direktur Eksekutif Asosiasi Pertambangan Batubara Indonesia (APBI) Supriatna Suhala‎ menjelaskan, melambatnya ekonomi Tiongkok sejak tahun lalu membuat nilai ekspor batu bara ke Tiongkok tertekan 20 persen hingga semester I-2015.

Ekspor batu bara yang tertekan, disebabkan penggunaannya sebagai sumber energi pembangkit listrik di Tiongkok. Kebijakan itu membuat pasokan batu bara di negeri Tirai Bambu serta nilai ekspor batu bara terkena dampaknya hingga tertekan jauh.


(AHL)