Begini Mekanisme Penetapan Penundaan Pilkada di 7 Daerah

Arga sumantri    •    Selasa, 04 Aug 2015 12:13 WIB
pilkada serentak
Begini Mekanisme Penetapan Penundaan Pilkada di 7 Daerah
Ketua KPU Husni Kamil Manik dan Menristek Dikti Mohamad Nasir bertukar naskah nota kesepahaman di gedung KPU, Jakarta, Kamis 30 Juli 2015. Antara Foto/Hafidz Mubarak A

Metrotvnews.com, Jakarta: Tujuh daerah batal menggelar pilkada serentak karena hanya ada satu pasangan bakal calon kepala daerah yang mendaftar. Komisi Pemilihan Umum (KPU) menginstruksikan kepada penyelenggara pemilu di daerah menjalankan mekanisme penundaan pilkada di daerah tersebut.

Komisioner KPU Ferry Kurnia Rizkiyansyah menjelaskan, KPU di tujuh daerah tersebut harus membuat berita acara bahwa tidak ada lagi yang mendaftar sebagai bakal calon kepala daerah hingga waktu perpanjangan pendaftaran ditutup pada 3 Agustus, pukul 16.00 WIB.

Selanjutnya, KPU di tujuh daerah itu harus menggelar rapat pleno penetapan keputusan penundaan pilkada, paling lambat dua hari terhitung sejak kemarin.

"Setelah itu mengambil keputusan dan ketetapan yang dituangkan pada surat keputusan (SK) di masing-masing daerah terkait penundaan (pilkada) di 2015 dan diteruskan ke 2017," kata Ferry di gedung KPU, Jakarta Pusat, Selasa (4/8/2015).

Keputusan KPU menunda pilkada di tujuh daerah itu mengacu pada Peraturan KPU Nomor 12 Tahun 2015, bagi daerah yang tidak memiliki lebih dari satu pasangan calon, pelaksanaan pilkada di daerah tersebut akan ditunda hingga pilkada serentak periode berikutnya.

"Nanti teman-teman di daerah masing-masing akan mengeluarkan surat penundaan," kata Ferry.

Tujuh kabupaten/kota yang hanya ada satu pasangan bakal calon kepala daerah:

1. Kabupaten Tasikmalaya, Jawa Barat
2. Kabupaten Blitar, Jawa Timur
3. Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat
4. Kota Samarinda, Kalimantan Timur
5. Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur
6. Kota Surabaya, Jawa Timur
7. Kabupaten Pacitan, Jawa Timur

Kota Surabaya nyaris menggelar pilkada serentak pada tahun ini. Menjelang waktu pendaftaran ditutup, pasangan Dhimam-Haries datang ke kantor KPU Surabaya untuk mendaftarkan diri sebagai bakal calon kepala daerah

Namun, tak lama kemudian Haries pergi tanpa meninggalkan pesan. Dhimam pun mengaku tak tahu alasan rekannya itu pergi. Hingga waktu pendaftaran ditutup, Haries tak kembali. Pasangan yang didukung Partai Demokrat dan Partai Amanat Nasional itu batal mendaftar.

Alhasil, hanya ada satu pasangan bakal calon kepala daerah yang mendaftar untuk pilkada serentak, Tri Rismaharini-Wisnu Sakti Buana. Pasangan ini didorong Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan.


(TRK)