Ingin Jadi Presiden AS, Clinton Mulai Tayangkan Iklan Kampanye

Fajar Nugraha    •    Selasa, 04 Aug 2015 13:30 WIB
hillary clinton
Ingin Jadi Presiden AS, Clinton Mulai Tayangkan Iklan Kampanye
Kandidat Presiden AS dari Partai Demokrat, Hillary Clinton (Foto: AFP)

Metrotvnews.com, Washington: Hillary Clinton berniat untuk menjadi Presiden Amerika Serikat (AS). Dia pun mulai menayangkan iklan kampanye televisi.

Penayangan Iklan Kampanye Hillary Clinton tersebut merupakan bagian dari upaya untuk memperkenalkan kembali dirinya sebagai pejuang progresif yang mengerti perjuangan hidup dari mayoritas warga AS.

Hillary Rodham Clinton menghabiskan dana sebesar USD2 juta untuk penayangan iklan televisi pertama pemilihan presidennya, dalam pemilihan suara pendahuluan di negara bagian Iowa dan New Hampshire.

Iklan yang mulai diputar pada Selasa (4/8/2015) ditayangkan di seluruh negara bagian tersebut. Iklan juga menyoroti perjuangan Clinton bagi keluarga Amerika dan hubungan Clinton dengan mendiang ibunya, yang menjadi tema utama dalam kampanye awalnya. Hal tersebut merupakan bagian dari upaya untuk memperkenalkan kembali salah satu selebriti politik terbesar di Amerika, sebagai pejuang progresif yang memahami perjuangan kebanyakan warga Amerika.

"Setelah lulus dari sekolah hukum (dari Universitas Yale) ia bisa bekerja di sebuah perusahaan besar, tetapi malah memilih bekerja untuk pengumpulan dana bagi ketahanan anak-anak. Di Arkansas, ia memperjuangkan reformasi sekolah untuk dapat mengubah hidup selamanya," kata seorang narator di salah satu iklan, seperti dikutip VOA Indonesia, Selasa (4/8/2015).

"Kemudian sebagai ibu negara, dia membantu mendapatkan perawatan kesehatan bagi delapan juta anak-anak. Anda mungkin tahu lanjutan (cerita)-nya," lanjutnya.

Iklan kedua Clinton terfokus hampir sepenuhnya pada kisah hidup mendiang ibunya Dorothy Rodham, yang berupaya mengatasi masa kecilnya yang suram akibat pengabaian, kelalaian dari orangtuanya dan kemiskinan.

Iklan TV pertama Clinton muncul di tengah spekulasi baru bahwa Wakil Presiden Joe Biden kemungkinan dapat menjadi menantang Clinton untuk meraih nominasi Capres partai Demokrat. Sementara Clinton tetap berada pada posisi terdepan dalam urutan pencalonan, dia menunjukkan tanda-tanda kelemahan dalam beberapa pekan terakhir, termasuk penurunan peringkat yang paling diinginkan dan pandangan masyarakat mengenai kepercayaan mereka terhadap para kandidat.

Dalam beberapa pekan terakhir, Senator Vermont Bernie Sanders telah menarik perhatian banyak orang dengan bukti pesan ekonomi liberal, dan tim kampanyenya yang mengatakan bahwa Sanders bisa menjadi calon alternatif partai Demokrat selain Clinton.

Sejauh ini, Sanders menolak menyerang Clinton, dan lebih fokus pada pandangannya yang lebih liberal pada isu-isu seperti peraturan Wall Street dan pembangunan pipa minyak Keystone yang kontroversial.

Penekanan pada isu-isu keluarga merupakan perubahan dari tema kampanye pencalonan Clinton yang gagal untuk menjadi Presiden pada 2008. Saat itu  kampanyenya berfokus pada pengalaman dan ketangguhan Clinton.

Meskipun Clinton telah menghabiskan puluhan tahun di panggung politik Amerika, timnya menegaskan bahwa pemilih tidak benar-benar tahu banyak tentang latar belakangnya. Mereka berfokus pada memperkenalkan kembali mantan Menteri Luar Negeri, calon presiden, dan Senator New York sebagai 'seorang nenek pemimpin', dengan menyoroti hubungan keluarganya dan merangkul perannya dalam sejarah, sebagai sosok yang berpotensi untuk menjadi presiden perempuan pertama AS.

Sejumlah kandidat Partai Republik sudah mulai menayangkan iklan, mencoba untuk menunjukkan perbedaan kemampuan mereka dalam pemilihan pendahuluan yang ramai diikuti para bakal calon Presiden.

Kampanye Senator Florida, Marco Rubio telah menghabiskan lebih dari USD12 juta dalam iklan yang ditayangkan mulai akhir tahun di negara bagian Iowa, New Hampshire dan negara-negara bagian lain.

Bakal capres partai Republik lainnya, Gubernur Ohio John Kasich telah menghabiskan biaya USD1 juta, sementara Gubernur New Jersey Chris Christie menghabiskan hampir USD500 ribu untuk iklan kampanye guna menghadapi pemilihan pendahuluan di negara bagian New Hampshire.


(FJR)