Gerakan Pencerahan Menuju Indonesia Berkemajuan

   •    Selasa, 04 Aug 2015 16:03 WIB
muktamar muhammadiyah
Gerakan Pencerahan Menuju Indonesia Berkemajuan
Sidang Pleno I Muktamar ke-47 Muhammadiyah di Unismuh Makassar, Sulawesi Selatan, Senin (3/8). (foto: MI/Arya Manggala)

Prof Dr H Yunahar Ilyas, Lc, MA., Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2010-2015


KURANG lebih sejak 1975, ada pola tempat penyelenggaraan Muktamar Muhammadiyah, yakni tiga kali diadakan di Pulau Jawa dan sekali di luar Jawa. Pada 1975, Muktamar Muhammadiyah ke-39 digelar di Kota Padang, Sumatra Barat.

Setahun berikutnya, muktamar ke-40 diadakan di Surabaya, Jawa Timur. Sementara itu, muktamar ke-41 yang diadakan 1985 dihelat di Surakarta dan muktamar berikutnya di Yogyakarta.

Pada 1995, muktamar kembali diadakan di luar Jawa, yaitu muktamar ke-43 yang diselenggarakan di Aceh.

Kemudian, tiga muktamar berikutnya diadakan di Jawa, yakni Jakarta (2000), Malang (2005), dan muktamar ke-46 di Yogyakarta (2010).

Untuk tahun ini, muktamar ke-47 kembali diadakan di luar Jawa, yaitu di Makassar, Sulawesi Selatan.

Sebenarnya tidak ada aturan tertulis tentang pola 3:1 ini.

Bahkan, dalam rapat-rapat penentuan tempat muktamar pun, baik di tingkat pimpinan pusat maupun di sidang tanwir (permusyawaratan tertinggi kedua setelah muktamar), tema itu tidak pernah dibicarakan karena tidak relevan untuk membahas Jawa dan luar Jawa.

Muhammadiyah ialah gerakan yang bersifat nasional jauh sebelum Indonesia sebagai negara terbentuk.

Muktamar ke-47 di Makassar ialah muktamar pertama pada abad kedua perjalanan dakwah Muhammadiyah.

Kalau Muktamar Satu Abad 2010 yang diadakan di Yogyakarta mengambil tema Gerak melintasi zaman: dakwah dan tajdid menuju peradaban utama, muktamar di Makassar 3-7 Agustus 2015 yang akan datang mengambil tema Gerakan pencerahan menuju Indonesia berkemajuan.

Di kalangan pengurus dan warga Muhammadiyah, organisasi itu biasa disebut persyarikatan.

Hal itu boleh jadi karena sebelum mendirikan Muhammadiyah, Kiai Haji Ahmad Dahlan sudah mendirikan beberapa organisasi dalam bentuk majelis taklim dengan berbagai nama, seperti Wal-Fajri dan Wal-'Ashri.

Kemudian semua bersatu dalam Muhammadiyah, termasuk juga organisasi yang didirikan tokoh lain, seperti Sendi Aman Tiang Selamat di Maninjau, Sumatra Barat, yang didirikan Dr Abdul Karim Amrullah.

Ide pencerahan

Di samping persyarikatan, julukan populer lainnya ialah gerakan.

Hal tersebut menunjukkan bahwa organisasi itu selalu bergerak dinamis, tidak pernah berhenti berjuang, berdakwah, dan beramal saleh untuk umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Dilihat dari segi struktur dan jaringannya, Muhammadiyah bersifat jam'iyyah (organisasi) dan kalau dilihat dari segi keanggotaan dan hubungan antara anggota dan pimpinan sebagai sebuah keluarga besar, Muhammadiyah dapat disebut jemaah.

Ide pencerahan atau dalam bahasa Arab disebut tanwir didapat dari pemahaman Surah Al-Baqarah ayat 257.

"Allah pelindung orang-orang yang beriman; dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya."

Ayat itu menjelaskan bahwa Allah SWT membawa orang-orang yang beriman keluar dari berbagai macam kegelapan menuju satu cahaya (yukhrijuhum min azh-zhulumat ila an-nur).

Nur berarti cahaya. Memberi cahaya disebut tanwir, atau dalam terjemahan bebasnya pencerahan.

Pencerahan itu mempunyai tiga unsur: pembebasan, pemberdayaan, dan memajukan.

Sebagai gerakan pencerahan, tugas pertama Muhammadiyah ialah membebaskan manusia dari penyembahan sesama makhluk menuju penyembahan Khalik semata.

Itulah misi utama dakwah Islam, yaitu membebaskan umat manusia dari penyembahan sesama makhluk menuju penyembahan Allah semata.

Dengan ungkapan lain, membawa manusia dari kemusyrikan menuju tauhid, dari kekufuran menuju Islam, dari kedurhakaan menuju ketaatan, dari kejahatan menuju kebaikan, dari kebohongan menuju kejujuran, dan dari perbuatan mungkar menuju perbuatan makruf.

Tauhid inilah yang menjadikan manusia bertindak rasional, efektif, efisien, selalu mengerjakan kebaikan, dan ingin memberikan manfaat bagi orang lain.

Dengan semangat pembebasan itulah, Muhammadiyah sejak awal berdiri berjuang tanpa kenal lelah membebaskan bangsa Indonesia dari penjajahan, kebodohan, dan kemiskinan.

Setelah pembebasan, unsur pencerahan yang kedua ialah pemberdayaan.

Aspek yang kedua itu dilakukan Muhammadiyah melalui dakwah, pendidikan, kesehatan, dan pelayanan sosial.

Sejarah sudah mencatat kiprah Muhammadiyah satu abad mendidik anak bangsa sehingga dari rahim organisasi itu lahir puluhan ribu sekolah, ratusan perguruan tinggi, rumah sakit, dan panti-panti yatim dan jompo.

Tidak dapat dihitung sudah berapa juta anak bangsa yang telah dididik Muhammadiyah dan sudah berapa banyak tokoh yang disumbangkan Muhammadiyah untuk bangsa ini.

Sebagian dari mereka sudah dihargai pemerintah sebagai pahlawan nasional dan sebagian lagi hanya menjadi pahlawan di hati bangsa yang mengenalnya.

Setelah pemberdayaan, unsur ketiga dari pencerahan ialah memajukan. Maju dalam segala aspek, baik ilmu pengetahuan, teknologi, kebudayaan, ekonomi, politik, maupun budaya.

Gerakan pencerahan yang dilakukan Muhammadiyah terus-menerus itu ialah dalam rangka memajukan bangsa dan negara.

Muhammadiyah dengan ideologi dan manhaj moderatnya (washathiyah) ingin membawa Indonesia menjadi negara yang tidak hanya aman, damai, toleran, sejahtera, tetapi juga maju.

Bagi Muhammadiyah, Indonesia dengan ideologi Pancasila merupakan negara hasil konsensus seluruh komponen bangsa.

Oleh sebab itu, Muhammadiyah bersama seluruh komponen bangsa berkewajiban menjaganya.

Di samping itu, bagi Muhammadiyah, Indonesia juga negara tempat kita menjadi syuhada (menjadi saksi dalam pengertian memberikan yang terbaik sehingga menjadi teladan, rujukan, referensi bagi siapa saja).

Dalam bahasa Arab, bagi Muhammadiyah, Indonesia merupakan darul 'ahdi wa asy-syahadah.

Oleh sebab itu, Muhammadiyah berjuang dengan sungguh-sungguh dan sepenuh kekuatan untuk membawa Indonesia sebagai darul 'ahdi wa asy-syahadah itu menuju baldatun thayyibatun wa rabbun gafur.

Yakni, negara yang aman, damai, tenteram, sejahtera, adil, makmur, dan diridai Allah SWT.

Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar ingin meneguhkan hal itu, meneguhkan peran yang sudah diambil Muhammadiyah sejak awal berdirinya.


(ADM)